Apa yang bisa gw lakukan ketika teman gw kena musibah? Tentu menolong. Tapi menolong yang bagaimana?
Teman gw yang baru saja kena musibah ditipu cinta, dan nyaris ditipu 10 juta rupiah itu, tentu bete sampe ke ujung dunia. Ketika ditanya, dia bilang, mau menganggap ini pura-pura gak pernah terjadi aja. Lho, jangan begitu. Kejadian buruk justru harus diakui pernah terjadi. Karena itu bagian dari hidup kita. You can't erase your life, rite?
Lantas gw yang penasaran. Secara kami ini bekerja sebagai pewarta, masa membiarkan kasus kriminal berlalu begitu saja? Rasanya kok konyol. Tentu saja kami punya akses informasi yang besar untuk punya kewarasan hukum yang mudah-mudahan cukup baik dongs.
In other words, bukannya kita harus lapor polisi ya? Apalagi gw udah punya nomor rekening bank si 'petugas imigrasi' itu. Dilengkapi dengan email, SMS dari si laki-laki bedebah klonteng itu, mestinya itu bisa dianggap sebagai barang bukti. Teman gw itu pun ternyata masih simpan semua SMS dan emailnya.
I offered her my hand. Karena dia bilang berasa nyesek kalo baca lagi sms dan email dari si laki-laki itu. After all, dia pernah diajak nikah sama si laki-laki fiktif ini. Tapi tentu saja dia gak membolehkan, karena SMS dan Email adalah hal paling personal milik dia yang gak bakal dia bagi.
Lantas dia menyebut soal trauma. Soal pemulihannya.
Ah rupanya dia trauma. Despite the smiles on her face.
Mendadak gw berasa gw gak cukup berempati dengan dia sebagai korban. Kayak apa rasanya jadi pekerja yang harusnya-melek-penipuan tapi lantas jadi korban penipuan?
Gw pernah nyaris jadi korban penipuan ketika ada yang ngabarin ke rumah kalau bokap gw kecelakaan. Mendadak gw panik, lunglai, tidak ingin percaya kabar telfon itu, meski sekaligus khawatir kalau kejadian itu betulan. Untunglah nyokap gw cukup waras menelaah situasi, sehinggga kita gak jadi korban.
Gw pun pernah jadi korban kekerasan saat pacaran. Pasca putus sama pacar, gw dicekek. Di ruang publik bo. Dia ngajakin balik dan gw gak mau. Gw gatau pertengkarannya soal apa, lantas dia mencekek gw. Dan tidak ada satu pun yang menolong gw.
Jadi mestinya gw punya cukup bekal untuk berempati. Tapi nyatanya gw sampai harus diingatkan si teman gw itu soal hak dia untuk memulihkan trauma.
Gw lantas 'mengadu' ke teman gw yang satu lagi. Dia bilang, mungkin kawan kita ini ternyata begitu terpukul dan terpuruk. "Dia bilang gak berharap, tapi sebetulnya perilakunya berharap.' Ah betul juga. Sepatu merah itu jadi penanda harapan dia. Kepergian dia ke Bandara jadi penanda lain.
Jadi ini saatnya untuk tutup mulut. Mungkin ini cara yang bisa gw lakukan untuk 'menolong' teman gw itu.
Toh gw, juga temen gw yang satu lagi itu, sudah mengusulkan supaya melaporkan soal ini ke polisi. Berharap pelakunya ditangkap, mungkin jauh. Tapi paling enggak mengabarkan pada polisi soal modus penipuan macam begini.
Supaya tak ada ada korban berikutnya.
Tuesday, November 23, 2010
Teman Korban
Posted by pippilotta at 23:22
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment