Monday, November 22, 2010

Fiktif

Teman saya habis ditipu.

Laki-laki itu datang dengan cinta. Menelfon setiap hari. Menghamburkan rencana menikah. Padahal mereka baru kenal sebatas telfon. Hanya sekali dua kali bertukar foto, itupun terlanjur dihilangkan oleh teman saya.

Ah siapa yang tak suka dihujani cinta? Setelah terpuruk pada kisah cinta masa lalu, disirami cinta jadi penyejuk hati yang paling ditunggu. Pipi merona setiap pagi. Hati membuncah setiap saat. Teman saya senang. Ada laki-laki berusia matang yang hadir dalam kehidupannya. Dia yang sudah lama memendam keinginan untuk menikah, seolah mendapat jawaban.

Tapi laki-laki itu tak jelas asal muasalnya. Di abad 21 begini, namanya tak muncul di laman mesin pencari tersohor di internet. Pun alamat emailnya. Saya bertanya: dia sungguhan atau fiktif?

Teman saya tak mau mencari tahu. Dia bilang, tak enak. Tak mau dianggap tak mudah percaya. Saya terperangah. Sayang, kamu ini mau menikah dengan dia, bukan janjian makan siang.

Saya yang mencari tahu soal laki-laki itu dan mendapati cerita laki-laki itu banyak bolongnya. Sampai beberapa hari sebelum kedatangannya ke Jakarta, tak kunjung diketahui di mana alamat kantor si laki-laki ini. Padahal konon dia bekerja di sebuah perusahaan multinasional, hendak membuka cabang pula di negeri jiran karena Asia adalah pasar yang menjanjikan.

Lantas mereka berjanji bertemu. Sebuah tanggal ditentukan. Hanya 2 pekan sebelum tanggal lain yang mereka sepakati sebagai hari pernikahan. Saya masih tak habis pikir: bagaimana mungkin menikah dengan orang yang baru dikenal? Dengan segala ketidakjelasan informasi dasar soal laki-laki ini?

Mungkin saya yang kuno. Saya harus bertemu orang itu secara fisik dulu untuk yakin bahwa dia yang saya cari. Saya harus kenal luar dalam, juga tahu sedetil mungkin informasi soal orang yang bakal saya nikahi. Mungkin saya yang kuno.

Di hari yang ditentukan, laki-laki itu tak datang. Masih ada urusan bisnis katanya. Ah, bukankah bisnis selalu bisa direncanakan? Bukankah perusahaan multinasional pasti punya perencanaan bisnis yang matang? Cerita pun bergulir, lengkap dengan bolong di sana sini.

Curiga bertambah. Teman saya tetap pada pendiriannya untuk bertemu si laki-laki ini.

Kedatangan si laki-laki ini mundur seminggu. Pada hari yang dijanjikan, teman saya berdandan. Sepatu merah jadi penanda mood-nya hari itu. Dia gembira. Sumringah menjemput cinta di bandara. Sialnya, pertanyaan teman saya soal flight apa yang dinaiki laki-laki ini, tak mendapat jawab.

Tapi saya masih curiga. Penerbangan dari negara tetangga itu hanya 2 kali di bandara kami. Di penerbangan pertama, tak ada. Sementara penerbangan kedua masih lama. Jadi di mana gerangan laki-laki itu?

Cerita bergulir. Makin banyak bolong di sana sini. Entah angin hujan mana yang membawa si laki-laki itu terbang ke kota lain. Tak mau pula diperiksa petugas di sana. Ujung-ujungnya, meminta teman saya mengeluarkan uang puluhan juta untuk menebus dia keluar dari bandara. ‘Aku sudah tiba di negaramu, tak maukah kau berjumpa denganku?’ tanya si laki-laki ini.

Ah laki-laki ini fiktif, sayang.

Tapi teman saya tak mau percaya. Tak ingin percaya. Mungkin juga tak habis pikir mengapa dia sampai bisa ditipu. Saya mencoba membantu. Memanfaatkan intuisi dan ketekunan Virgo untuk mengurai cerita dari awal sampai akhir, untuk sama-sama menemukan di mana bolong cerita. Supaya kami bersepakat bahwa dia hanya tokoh fiktif.

Teman saya masih belum mau percaya. Dia angkat telfon, mencari informasi ke lima penjuru mata angin. Adakah laki-laki itu di sana? Adakah petugas yang meminta puluhan juta itu? Adakah penumpang yang tertahan di kantor imigrasi?

Tidak ada. Tidak ada, sayang.

Ini saatnya menerima kenyataan. Laki-laki itu fiktif. Dia penipu.

0 comments:

 
Template by suckmylolly.com