Suatu ketika pas Ben Murtagh lagi ke Indonesia, dia pernah mengeluh soal tata cara menelfonnya orang Indonesia. Hoya, Ben ini adalah salah satu dosen di SOAS, gw gak pernah diajar sama dia, tapi kenal karena dia dengan sangat mengagumkannya tau banyak soal film Indonesia. Terutama yang film-film jadul 80-an gitu karena, "Saya ngerti dialognya. Kalo yang sekarang, susah!" hihiehiheie..
Kembali ke soal tata cara nelfon. Tepatnya mungkin tata krama ya. Kayak barusan gini. Ada orang telfon.
X: Halo bisa bicara dengan *£%&£$
C: Siapa? (secara gw budek gitu)
X: Bisa bicara dengan Aziz?
C: O salah sambung Mas.
X: tut.. tut.. tut..
Lah. Buset, kagak ada kalimat penutup nih? 'Oh maaf ya Mbak' atau apa gitu kek. Kan bisa aja gw lagi tidur siang, trus bangun tidur kaget lalu migren seharian gara-gara telfon salah sambung, kalo gitu kan gw berhak mendapatkan kata maaf atas gangguan tersebut.
Itu juga yang dikeluhkan sama Ben Murtagh. Lain orang, lain pula tata kramanya. Gak ada tata krama standar dalam menelfon. Tentu saja dia membandingkan dengan British people yang sangat penuh tata krama dan sopan santun itu. Lah wong nawarin teh aja begini: "Would you like to have a lovely cup of tea?" He? Lovely cup of tea? Jenis teh baru nih? Keikeiekeik..
Kata Ben, kata sapaan awal pun bisa beda-beda. Kadang 'Halo', kadang 'Asalamualaikum', kadang 'Hm' aja, kadang gak ngomong sama sekali. Itu aja udah bikin dia keder. Belum lagi tata krama selama percakapannya, juga pas nutup percakapan. Ben membandingkan dengan ketika British people saling menelfon yang pastinya mengakhiri dengan,"It was nice talking to you. Hope we can get in touch again soon." atau semacamnya lah. Ada kalimat penutup, itu yang ditekankan Ben.
Pas Ben bilang gitu ke gw sih gw gak nanggepin serius. Ada-ada aje ini bule, heihiehie, kok ya pikirin amat tata krama nelfon. Tapi kalo dipikir-pikir, ya ini penting dong. Ini kan bagian dari komunikasi. Apalagi ini tanpa tatap muka, jadi lebih rentan salah paham. Salah paham ini bisa aja timbul dari perbedaan 'standar' tata krama menelfon ini.
Mungkin gara-gara ini gw jadi perhatian sama tata krama nelfon. Selain insiden barusan yang telfon salah sambung itu, pernah juga pas ditelfon sama Mas Ade. Mulai ngomong gak pernah pake kata 'halo', mengakhiri telfon pun gak pernah pake kata 'dadah' atau apa pun itu. Nah ketiadaan penutup emang suka bikin keder. Karena kayak kitanya jadi degdegan gitu, ini sebenernya pembicaraan sudah berakhir atau belum ya? Atau ada lagi gak yang mau diomongin?
Kalo Hilman, kebiasaannya lain lagi. Dia itu kalo nelfon, pasti satu jari udah siap di tombol merah, siap matiin telfon. Jadi begitu dia bilang 'dadah' atau mengakhiri percakapan, dia langsung refleks nutup telfon. Gak ngasih kesempatan bagi si lawan bicara untuk ngebales 'dadah'-nya itu. Iiihh kadang-kadang kesel aje, kan kali aja gw masih mau menyelipkan kata-kata mesra gitu (tsah).
Mungkin gak cuma nelfon yang perlu tata krama, tapi juga SMS. Secara gw sekarang banyak berkutat dengan kiriman tulisan feature dari reporter/kontributor daerah, pagi-siang-sore-malem ada aja SMS masuk nanyain soal feature mereka. Sialnya, seringkali gak pake nama, nah gw bingung doongg.. Tentu saja gw gak memasukkan nama-nama mereka ke phonebook gw, banyak pisan bow, males ajeh, lah wong ini aja udah penuh phonebook-nya.
Temen gw ada yang bisa nandain perbedaan tiap reporter dari cara mereka menyapa, ada yang nyebut 'Mas', ada yang nyebut 'Bos' atau semacamnya. Lah, SMS yang masuk ke gw semuanya manggil 'Mbak', pegimane gw bisa bedain? Satu-satunya yang cukup unik dan bisa gw bedakan adalah SMS dari kontributor di Papua. Pembedanya adalah kata yang dipakai: "Kiriman kaset sudah sampai ka?" (sembari gw ngebayangin Rini di Papua yang lagi ngomong kayak gitu)
Kembali ke tata krama, gw berusaha memulai itu. Kalo nelfon temen yang bisa jadi udah ngapus nomor telfon gw di phonebook-nya, gw langsung memulai dengan,"Hai X, ini Citra" dan menyertakan beberapa identitas yang sekiranya diperlukan, misalnya fakultas, jurusan, angkatan, dan sebangsanya. Kalo SMS, masih suka lupa. Mungkin gw perlu mengaktifkan fitur signature di HP gw, biar diseragamin aja SMS ke semua orang diakhiri dengan nama gw. Tapi kalo gitu ngabisin space karakter isi SMS gak ya?
Sunday, June 03, 2007
Tata Krama Nelfon
Posted by pippi at 17:18 0 comments Links to this post
Terorejing Blog
'Teror' terhadap blog gw kayaknya masih berlanjut huhu. Terlihat pada shoutbox gw barusan.
St. Anger: "Diatas langit selalu ada langit, dibalik sebuah hujatan selalu ada bathin yang tertekan,..ketersingungan,..ulah sebuah kesombongan,
St. Anger: kesombongan kita semua...tak apa semua ini sebuah pembelajaran...
St. Anger: pembelajaran dalam kebutaan(blog).
St. Anger: Saaiiinttt Angeerrrrr,,,
Gw gatau apakah ini pelaku yang sama dengan yang ini atau enggak, tapi well, karena nadanya sama, anggap saja ini pelaku yang sama. Mungkin bukan pelaku yang sama, tapi punya cara pandang yang sama terhadap gw.
Coba kita pelajari satu per satu kalimatnya.
'Di atas langit selalu ada langit'
Pertama, harus dipisah antara 'di' dan 'atas' karena menunjukkan lokasi (contoh lain: di bawah, di samping, di situ). Betul, di atas langit selalu ada langit. Minimal sampe langit ketujuh.
'Di balik sebuah hujatan selalu ada bathin yang tertekan, ketersinggungan, ulah sebuah kesombongan'
Hujatan yang mana? Kalo masih soal kata 'bergeming', haduh, mesti berapa kali ya gw jelasin kalo itu sungguh bukan hujatan. Itu pendapat, komentar. Bahkan gw gak menempatkan itu sebagai sebuah kritik. Mengapa itu pendapat? Karena gw pake frase 'setau gw'. Fyi ya, menurut KBBI, 'bergeming' itu artinya 'diam'. Nyokap gw udah menitahkan gw untuk segera cek arti kata itu di KBBI. Batin yang tertekan? Kenapa mesti tertekan? Ketersinggungan? Kenapa gw mesti tersinggung? Kesombongan? Wah, gw sombong nih? Sombong kenapa ya? Kalo gw dikasih tau, pasti gw terima masukannya dengan senang hati. Mungkin sedikit denial di awal, tapi itu manusiawi lah, namanya aja denial. Tapi kan pasti masukan itu diolah untuk kebaikan gw di kemudian hari.
'Tak apa ini semua sebuah pembelajaran, pembelajaran dalam kebutaan (blog)'
Gw sih gak buta, kalo juling iya, minus iya, silinder juga iya. Kok ya kebutaan disamakan dengan blog.. iki opo toh... gw gak ngarti.. sumpah..
Cuma ada satu kata doang yang gw setujui dari komentar siapapun dia St Anger ini. Pembelajaran. Tentu saja pembelajaran yang gw peroleh BUKAN untuk tidak mengomentari blog orang lagi di kemudian hari, tapi belajar untuk memahami bahwa kebebasan berekspresi sungguh masih sulit diterima banyak orang. Kebebasan memang gak pernah mutlak, karena kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain.
Sejauh gw paham apa yang gw lakukan, gw berusaha tidak melanggar kebebasan orang lain salah satunya dengan cara meninggalkan jejak pada komentar di blog orang lain itu. Bertanggung jawab. Sehingga kalo ada yang gak suka sama komentar gw, bisa menyampaikan, menjelaskan dan menyelesaikannya bersama-sama gw.
Hoya, secara gw gak pernah tau apa itu St Anger, gw segera meng-google dong. Ternyata St Anger ini lagunya Metallica, liriknya kayak gini. Gw mencoba memahami lirik lagu ini, siapa tau gw jadi paham karakter si St Anger yang nulis di shoutbox gw. Gw gak ngerti, huhuhu. Yang gw paham ya cuma bagian 'I'm madly in anger with you'. Pasti si St Anger ini lagi marah sama gw, makanya nulis kayak gitu di shoutbox. Sialnya, bagian 'mengapa'-nya masih jadi misteri.
Victor bilang, 'hikmah' dari kejadian-kejadian belakangan ini terhadap blog gw adalah 'minimal dibaca'. Hiehiehie, bole juga. Kata Monty Phyton kan 'always look on the bright side of life!'
Posted by pippi at 16:25 0 comments Links to this post
Friday, June 01, 2007
Buat Temen-temennya Yoga
Suatu hari gw menemukan pesan ini di shoutbox gw.
26 May 07, 12:24
basi: tadinya saya pikir kamu "smart", ternyata cuma sok "smart".
Nah lho. Gw gak kenal dong sama Pak/Bu Basi ini. Lah wong gak ninggalin jejak. Apalagi gw gak tau tulisan mana yang menurut dia "smart" atau "sok smart" itu. The whole blog? Ya boleh aja dia berpendapat gitu, kan gw juga gak nulis biar dianggep apa gitu kek. Semata-mata demi ingatan.
Makanya gw bales pesannya, berharap mendapat kejelasan.
27 May 07, 14:35
gosong: hai pak/bu basi. sak karepe situ wae. situ juga gak pede, ninggalin komen keji tapi gak berani ninggalin jejak huahuahua, siapa hayo yang lebih basi?
Setelah itu baru deh gw mendapatkan kejelasan. Dari mana? Dari dua pesan berikutnya:
31 May 07, 17:50
Sahabat siYoga: Lah Anda sendiri meninggalkan pesan koreksi pada Blog sahabatku Yoga...mengoreksinya, sebuah kata "bergeming". Sekarang Anda di koreksi kok panas?
1 Jun 07, 10:42
fans sahabat siYoga: biasa, kalo ujub pasti ngerasa dirinya sendiri hebat. pake ngoreksi blog orang lain pula. tuh...tulisan sendiri mbak dibenerin! malu dong, ya sama diri sendiri saja. situ kan sombong sama tuhan
Alhamdulillah, akhirnya terjawab juga kenapa gw tiba-tiba dihujat begini.
Jadi begini sodara-sodara yang terkasih.
Suatu hari gw mampir ke blognya Yoga. Yoga ini senior gw di kampus. Anak Komunikasi FISIP UI angkatan 91, senior gw di jurusan dan
di Tabloid Gosip. Doi salah satu dedengkot di tabloid itu
deh. Dia juga sempet jadi pacarnya temen gw sejurusan. Gw termasuk fans band-nya Yoga dulu pas di kampus, di mana Yoga kebagian tugas jadi tukang nge-rap, yaitu Liga Musik. Dia sekarang kerja di biro iklan McCann-Erickson (eh kebalik gak sih namanya?). Setelah lulus kami emang jarang berinteraksi karena geng pertemanan kami gak sama aja.
Nah ketika gw mampir ke blognya Yoga, gw menemukan tulisan ini. Menurut gw tulisannya oke. Gak ada yang kurang. Lalu gw menemukan kalimat ini di bagian akhir
tulisan tersebut: Namun patung itu tidak bergeming. 'Patung' ini tuh maksudnya patung Jendral Soedirman. Gw jadi gelisah. Pasti yang dimaksud Yoga dengan frase 'tidak bergeming' adalah 'diam'.
Sementara gw lupa-lupa inget, secara bahasa Indonesia tuh yang benar 'bergeming' atau 'tidak bergeming' yah yang artinya 'diam'?
Itu dia yang gw tanyain di shoutbox-nya Yoga. Gini persisnya.
23/05/2007 14:40
citra
yang betul 'bergeming' atau 'tak bergeming' yah yang artinya 'diam'. itu kan yang dimaksud dalam tulisan jend soedirman? setau gw 'bergeming' = 'diam'.
Sepaham gw akan tulisan gw sendiri, gw tidak mengoreksi tulisan Yoga. Gw bertanya, mana sih yang bener? Iya sih, kurang tanda tanya (?), maap yah. Namanya juga nulis shoutbox, kan suka keselip aja gitu. Dan untuk menegaskan bahwa gw tidak mengoreksi, kalimat terakhir gw rasanya menjelaskan itu. 'Setau gw' artinya pendapat gw kan? Berarti bisa salah, bisa juga bener kan?
Pertama, tentunya gw mau minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Gw sih gak bermaksud mengoreksi blog/tulisan Yoga. Lah wong yang gw cermati cuma satu kata 'bergeming' doang. Seinget gw tuh ada perdebatan di kantor gw soal penggunaan kata "bergeming" dan "tidak bergeming"; mana yang artinya "diam". Sebelum gw posting shoutbox di blognya Yoga aja gw tanya-tanya kiri kanan depan belakang dulu, sebenernya mana sih yang artinya 'diam'? Sampe-sampe temen gw ngeliatin di KBBI gitu lho. Serius betul kan berarti kadar pertanyaan gw...
Kedua, kalaupun iya gw mengoreksi, ah ya masa iya dilarang ngoreksi sih? Bukan 'ngoreksi' kali yah kata yang tepat, tapi 'berkomentar'. Gitu boleh gak? Siapalah saya ini untuk mengoreksi orang lain? Tapi ini kan dunia bebas, di mana setiap orang punya kebebasan berekspresi. Gw mengekpresikan kegelisahan gw akan kata 'bergeming', makanya nulis di shoutbox-nya Yoga. Gitu ajah. Tentu saja Pak/Bu 'basi', 'Sahabat siYoga' dan 'fans sahabat siYoga' juga punya hak akan kebebasan berekspresi yang sama. Kita semua berbagi hak itu kok.
Tapi mbok yao lebih bertanggung jawab. Misalnya dengan (1) menjelaskan tulisan/bagian mana yang dianggap 'smart' atau 'tidak smart' itu; sehingga kalau gw merasa perlu maka bisa gw perbaiki. Ada hak jawab gw gitu lho, (2) menjelaskan identitas, supaya kita bisa memperbincangan kesalahpahaman ini. Kan gak enak banget rasanya dilabel sesuatu yang negatif, tapi gw gatau siapa yang ngomong dan kenapa gw 'dikatain'
begitu. Gantung euy. Rasanya tuh kayak abis ngupil, trus upilnya lengket, jadi gak bisa disentil dari jari.. gantung kan?
Ketiga, 'fans sahabat siYoga' menyebut begini dalam komennya di shoutbox: situ kan sombong sama tuhan. Adudududuh, kenapa jadi bawa-bawa Tuhan ya? Biarlah urusan gw sama Tuhan jadi urusan gw sendiri. Gw mau solat kek, mau puasa kek, mau enggak kek, itu semua urusan gw. Gw gak perlu membela diri gw di hadapan orang lain, cukup membela diri gw kelak di hadapan Tuhan. Untuk itu pun gw gak akan minta bantuan orang lain kok. Kalo yang dijadikan patokan adalah tulisan gw yang ini, ya terserah saja. Kalo gw mau dianggap berkhianat sama agama gw sendiri, ya terserah juga. Gw senyum manis aja deh. Toh gw akan tetap bertahan pada keyakinan gw: urusan gw dan Tuhan adalah urusan gw pribadi.
Keempat, ah udah ah tiga aja. Masa masih jam kerja gini gw update blog banyak-banyak. Kerja lagi aja aaahh...
Posted by pippi at 13:45 2 comments Links to this post
Panen Mangga
Di rumah gw ada dua pohon mangga. Satu ditanem dari hasil berburu di PRJ, satu lagi ditanem dari biji. Entah sebenernya jenis kedua mangga itu apa. Diduga pohon yang kiri itu mangga arumanis, yang kanan mangga gedong. Gw gatau juga sih bedanya, heheh.
Nah, dari beberapa pekan lalu, kedua pohon mangga itu berbuah. Yang lebih dulu berbuah itu yang di sebelah kanan, yang persis ada di belakang rumah gw (kalo yang kiri kan di belakang rumah nyokap gw, kikikik). Paling enggak udah ada 5 orang yang nawar ngeborong mangga itu. Gw pernah nanya sekali, emangnya mau bayarin berapa sih? Ternyata mau ditawar 50 ribu sepohon. Waduh. Eh itu murah atau mahal ya?
Tapi karena kita gak berkenan aja mangga sepohon ditawar orang, jadi kita cuekin aja tawaran yagn datang. Pura-pura gak tau aja. Emang sih kalo manjat sendiri agak mencemaskan. Hilman paling banter manjat tangga dari bawah, trus nyodok-nyodok sekadarnya. Soalnya kita juga gak punya galah, huhuhu, galahnya udah dipake buat jadi tiang antena TV di depan. Jadilah kita agak cemas juga mesti berseteru dengan kalong alias codot yang juga ngincer mangga-mangga itu.
Alhasil Rabu kemarin dibulatkan tekad saja. Beni pinjem galah dari tetangga, trus mulai nyodok-nyodok dari bawah. Hilman yang tugasnya lari-larian ngambil mangga yang jatuh. Beni mulai gak sabar dan manjat pohon sambil bawa galah. Hilman emoh manjat, takut tiba-tiba kram di atas, kan gak lucu banget tuh. Ya udah jadinya biar Beni aja, Hilman teteup yang nangkep-nangkepin mangga yang jatoh.
Begitu atraksi akrobatik itu kelar, mangga-mangga yang ada dikumpulin di keranjang. Gw penasaran. Kalo mangga sepohon itu ditawar 50 ribu perak, sebenernya berapa total berat mangga-mangga ini ya? Gw timbang dong. Ternyata.. jeng jeng jeng jeng.. 25 kilo!
Trus barusan nih, gw tanya-tanya sama Fuad, temen sebelah gw, berapa sih sebenernya harga mangga sekilo? Dia bilang, rentangnya antara 4 ribu sampe 15 ribu. Buset, mangga sekilo bisa 15 ribu? Mangga dari emas? Oo ternyata mangga impor. Woalah, mangga aja kok impor, kurang kerjaan ini negara.
Dari hasil perbincangan itu, kayaknya mangga di pohon kanan itu mangga kweni. Diduga harganya sekilo itu sekitar 5-6 ribu perak. Mangkanya pas gw cerita kalo ada yang nawar sepohon 50 ribu, Fuad langsung ngakak,"Wah ya itu mah kebangetan!"
Beberapa butir mangga yang jatoh udah dikupas dan dipotong, soalnya beradu cepet sama belatung atau lalat atau apa pun yang mungkin
melakukan infiltrasi (halah) ke mangga-mangga tersebut. Mangga yang udah dipotong aja masih sebakul, yang belum dikupas masih setengah keranjang pakaian. Itu pun udah pake dibagi-bagi sama keluarga Kayu Manis. Widih, masih banyak begini diapain ya mangganya? Secara di rumah gw gak ada yang sanggup makan rujak gitu lhow.
Ada yang mau?
Posted by pippi at 13:26 0 comments Links to this post