Oooo ternyata sudah ada pengumuman dari SOAS sejak awal Desember. Dikirimnya ke email SOAS yang gak pernah gw cek lagi, mangkanya gw gak ngeh. Untung Mark duluan ngasitau gw ya. Biar gw gak terlambat pengsan kegirangan gitu, kikikik..
To, MS CITRA DYAH PRASTUTI - 169154@soas.ac.uk
1st December 2006
Notification of Classification for Taught Masters students 2005/2006.
MS CITRA DYAH PRASTUTI - Student ID number 169154
Degree Programme: MA CRITICAL MEDIA AND CULTURAL STUDIES
Classification: Merit
Dear MS PRASTUTI
I am writing with regards to the classification of your taught masters degree programme. The examination board have awarded you the degree with Merit classification. On behalf of the School I would like to congratulate you on your performance. A full breakdown of your results will be posted out to your home address during the week beginning 4th December 2006.
Please be aware that the examinations office will be posting out results to all students during the week beginning 4th December and we will not be able to respond to individual queries until this process has been completed. If you do have a query please address this to exams@soas.ac.uk and we will deal with these as quickly as possible.
Regards,
Marcus Cerny
Assistant Registrar (Examinations and Assessments)
School of Oriental and African Studies
Tel: +44 20 7074 5086
Fax: +44 20 7074 5089
email: mc69@soas.ac.uk
Monday, December 25, 2006
Dari SOAS
Posted by pippi at 12:17 2 comments Links to this post
Saturday, December 23, 2006
Nyuntik Ikhsan
Ikhsan, sepupu gw yang autis itu, lagi nyobain terapi vitamin dosis tinggi. Katanya sih anak-anak yang pakai terapi ini menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Jadi, gak ada salahnya dicoba. Di awal, Tatah udah ogah-ogahan. Soalnya menaklukkan Ikhsan yang tingginya sepintu untuk disuntik di bagian pantat tentu sebuah tantangan besar.
Sabtu pekan lalu, dijajal. Nyokap gw nyiapin setengah ampul vitamin dosis tinggi yang akan disuntikin ke pantat Ikhsan. Sofa bed di ruang tamu direbahin, trus Ikhsan dipaksa telungkup. Sebagai antisipasi Ikhsan yang berontak, Tatah tiduran di atas Ikhsan. Ditiban gitu deh. Sementara bokap gw, bibi-nya Ikhsan trus ibu-bapak ikut megangin kaki.
Lancaarrrr... Ikhsan meronta-ronta sih, tapi bisa ditangani lah. Dengan cengkeraman keras di tangan dan kaki, beres. Gw kebetulan nanggok. Begitu sesi nyuntik Ikhsan dimulai, gw langsung ambil posisi pegang kamera, kiekiekeie. Jadi kan gw ada alesan buat gak ikut megangin Ikhsan pas disuntik, hihihi.
Nah hari ini, Ikhsan sudah memetik pelajaran berharga dari sesi nyuntik pekan lalu. Bahwa disuntik itu tidak menyenangkan. Jadi hari ini dia mengupayakan segala cara untuk menggagalkan acara nyuntik pantat itu. Ikhsan mah mau-mau aja disuruh tiduran di sofa bed. Kita-nya juga langsung optimistis bahwa tidak akan terjadi hil-hil yang mustahal tadi. Eeehh... salah doongg.. Ikhsan menolak telungkup. Jadi ya doi tiduran aje, gak mau telungkup. Kalo dimiringin dikit, kakinya yang panjang dan besar itu langsung menendang siapa pun yang memegang. Wakwaw.
Hoke, kita coba skenario kedua. Mungkin kalo Ikhsan duduk, lalu celananya diturunin dikit sehingga pantatnya nongol, bisa kali yak? Tapi skenario ini segera dihapus karena Ikhsan yang maha kuat ini bisa nindes suntikannya dengan semena-mena. Lebih sialnya lagi kalo itu suntikan patah. Nah, cari masalah baru kan tuh namanya.
Sementara itu Ikhsan juga menjajal skenario berikutnya. Kali ini dia ngincer nyokap gw yang pegang suntikan. Jadilah nyokap gw mesti sigap lari-larian begitu Ikhsan mendekat, karena tangannya yang panjang itu siap merampas suntikan. Ih situ nakal.
Cara ketiga kita tempuh. Ini setelah cek dulu ke dokternya Ikhsan, apakah kiranya bisa nyuntik di tempat selain pantat. Ternyata disuntiknya bisa di tangan atau paha, di daerah bawah kulit. Istilahnya suputan. Gw gak mudeng juga sih. Bukannya semua wilayah suntikan itu ada di bawah kulit? Yaaaa itu bisa diperjelas ntar deeiii..
Karena bisa disuntik di lengan, yo wis, kita manfaatkan saja posisi Ikhsan yang lagi duduk di kursi. Kursi rotan dengan rangka besi. Tatah duduk di pangkuan Ikhsan, ngadep ke si Ikhsan. Ditegrep gitu deh. Yang lainnya sibuk megangin tangan. Eeehh ternyata Ikhsan memikirkan cara meloloskan diri yang lain. Dia merosotin diri sendiri di bangku, sehingga bangkunya miring dan jatoh. Tatah sampe ketiban badan Ikhsan yang segede bagong itu. Edunnya lagi, salah satu kaki kursi itu sampe bengkok. Huwaaaaa... kiekeiekiek..
Setelah tiga skenario gagal, kita gunakan skenario terakhir. Ikhsan yang lagi tidur-tiduran di lantai langsung ditegrep. Gw pegangin kedua tangan Ikhsan, yang lain pegangin bagian kaki. Sasaran suntik adalah paha. Tapi doi pinter niy, rese. Tiap kali mau disuntik, tiap kali juga dia mengejangkan otot-otot daerah yang mau disuntik. Nah kan jadi gak bisa disuntik tuh. Iiiihhh reseeee.. Setelah empat kali percobaan, akhirnya sukses juga itu suntikan satu ampul dicublesin. Fiiuuhh.. berhasil.. berhasil.. hore!
Abis kelar disuntik, Ikhsan langsung dapet reward deh. Satu gelas teh manis. Anak autis, atau Ikhsan khususnya, mestinya gak boleh minum manis-manis. Karena gula itu seperti narkoba buat mereka, bikin kondisi jadi gak keru-keruan. Girang berlebihan dan hiperaktif, kurang lebih gitu deh. Tapi yaaaaa... gimana dong.. namanya juga reward..
Berarti narkoba juga bisa dikasih buat reward dong? Hush. Itu mah enggak.
Posted by pippi at 13:10 2 comments Links to this post
Friday, December 22, 2006
Lamaran
Suatu hari, Nita naro katalog Oriflame di meja Dimas, yang kebetulan lagi di sebelah gw. Dimas memang menggunakan Oriflame sebagai salah satu 'sesajen' buat acara lamaran dia. Eh lamaran atau pas kawinan ya? Yaaa gitu deh..
Trus gw tanya-tanya deh jadinya sama Dimas. Emang kalo bawa sesajen macam begitu tuh isinya apa aja siy? Kata Dimas, isinya barang yang dipakai si calon bini dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Wih, berarti lademan juga masuk dong. Gw yakin Dimas pengen milih bra motif macan! Keikeiekeiek.. Naah, karena dari bawaan sesajen adalah barang-barang yang dipake dari pagi sampe malem, mangkanya Oriflame masuk dalam daftar.
Sebetulnya kenapa siy ya mesti repot-repot kayak gitu? Iya iya, gw ngerti, kawinan itu kalo bisa sekali seumur hidup, sehingga repot dikit gapapa. Kalo itu sih gw paham. Tapi apa iya sesajennya mesti banyak banget begitu? Atau, boleh gak sih menyiasati itu sesajen supaya gak mahal-mahal banget, dengan milih barang yang kira-kira berguna? Kalo gw boleh milih sesajen kayak gitu sih gw pilih notes yang banyak, mengingat gw tak bisa hidup tanpa notes. Juga berkotak-kotak bolpen merk Faster warna biru karena itu bolpen andelan gw. Mungkin ditambah juga voucher belanja, hihihi. Lhooo kok nambah terus yak, kikikik..
Tapi yaaa gitu deh. Kalo kawinan kan gak cuma si CMP dan CMW-nya yang turun tangan, tapi juga keluarga dari kedua belah pihak. Sehingga seringkali permintaan sesajen itu di-taken for granted saja oleh kedua CM. Atau dianggap sebagai upaya menyenangkan orangtua. Itu sih mulia-mulia aja. Cuma gw selalu khawatir kalo kayak gitu-gitu tuh jaid seremonial gak penting yang cuma bikin bengkak ongkos kawinan.
Gw teringat cerita M'Eni soal kawinan di kampungnya. Ada yang namanya 'uang naik' di adat Makassar. Si laki-laki mesti bayar 'uang naik' itu kalo mau nikah sama perempuan. Apa pun yang terjadi, 'uang naik' itu mesti ada. Kalo gak ya kawin lari, dengan risiko dibuang keluarga. Nominal 'uang naik' pun bervariasi, tergantung latar belakang si perempuan yang akan dinikahi. Kalo si perempuan berasal dari keluarga tajir, maka 'uang naik'-nya mahal. Begitu juga kalo si perempuan, misalnya, sudah naik haji. Wah lebih mahal lagi tuh 'uang naik'-nya.
Nah aturan kayak gitu tuh yang menurut gw rada gak masuk akal. Iya iya, itu emang adat. Tapi hadooohhh.. bikin parno aja gitu lho. Hubungan antar pasangan aja udah banyak ribetnya, apalagi pake mikirin 'uang naik'-nya segala. Bukankah ketulusan dan keinginan menikah dengan seseorang gak bisa diukur sama 'uang naik'?
Gimana kalo si laki-laki itu miskin total tapi cinta mati sama itu perempuan. Si perempuan juga cinta mati sama si laki-laki dan siap menikah. Tapi keduanya gak mau dibuang keluarga, sehingga pilihan kawin lari dihapus. Tapi kalo gak ada duit buat 'uang naik', pigimane? Ngutang? Wah ini kan menumbuhkan kebiasaan jelek bernama ngutang. Lagian masih ada begiiittuuu banyak lagi kebutuhan hidup sehari-hari yang mesti dipenuhi setelah menikah. Kalo duit untuk resepsinya saja ngutang, itu kan harus dilunasi dulu sebelum bisa memenuhi kebutuhan hidup berikutnya. Ini kayak secara sukarela minta dipasung, dipasung sama duid. Cieh. Eh tapi emang gituuuu kaannn..
Dengan begitu, maka lamaran gw mesti sederhana. Gak bisa enggak. Bukan perkara pelit, tapi cermat dengan pengeluaran. Kalo gak perlu ya gak usah. Ya tooohhh..
There's always the first time for everything. Everything went smooth, nice and easy tonight.
Posted by pippi at 23:53 3 comments Links to this post
Ide Paling Brilian

Sutiyoso Usul Halte Busway Ragunan Dipasangi Patung Onta
Ken Yunita - detikcom
Jakarta - Sebagai penggagas busway, tentu Sutiyoso ingin fasilitas transportasi massal Jakarta itu tampil cantik. Karena itulah dia mengusulkan agar di halte tertentu dipasangi asesoris.
Untuk halte Ragunan, Jakarta Selatan, misalnya, Gubernur Jakarta ini mengusulkan agar di dekat halte itu dipasangi patung binatang.
Jakarta - Sebagai penggagas busway, tentu Sutiyoso ingin fasilitas transportasi massal Jakarta itu tampil cantik. Karena itulah dia mengusulkan agar di halte tertentu dipasangi asesoris.
Untuk halte Ragunan, Jakarta Selatan, misalnya, Gubernur Jakarta ini mengusulkan agar di dekat halte itu dipasangi patung binatang.
"Misalnya dua onta," kata Sutiyoso di halte Ragunan, dalam uji coba busway koridor IV-VII, Jumat (22/12/2006).
ONTA?
Mengapaaaaaa???
Mendingan sekalian aja kasih binatang panda, biar turis asing pada bingung,"Kita di Cina atau di Indonesia ya?"
Kalo kata temen gw, Sutiyoso pilih onta karena kalo dinosaurus kegedean, sementara kalo kutu terlalu kecil.
Gw pilih sapi!
Posted by pippi at 14:49 0 comments Links to this post
Wednesday, December 20, 2006
Rindu London
Sial. Begitu menatapi gambar Tate Modern versi besar, gw jadi kangen London.
Bukan sekadar kangen kotanya. Tapi kangen punya waktu saaaaangggaaattttt luang untuk diri sendiri. Punya waktu luang untuk baca banyak hal. Punya banyak waktu buat nonton film-film asik. Punya pilihan banyak untuk datang ke museum-museum gratis. Punya banyak kesempatan untuk jalan kaki dan rehat di taman-taman indah.
Apalagi akhir-akhir ini gw dilanda sindrom 24 jam gak cukup buat nyelesaiin kerjaan gw. Huh. Laknat.
Udah ah, hap hap hap yok tidur.
Posted by pippi at 01:23 1 comments Links to this post
Jakarta Tanpa Cinderamata
Misalnya elu punya temen yang ke Jakarta, trus nanya di mana tempat beli cinderamata, ke mana elu akan mengajak dia?
Satu-satunya toko cinderamata yang nyandak di otak gw adalah Sarinah atau Pasaraya Blok M. Harganya sih mahal-mahal. Tentu murah kalo buat ukuran turis bule. Tapi gimana kalo ini turis dari Wonosobo, lalu pingin pulang bawa cinderamata aseli Jakarta? Apa coba yang bakal dibawa?
Ini membuat kita berpikir soal hal penting: apa sebetulnya ciri khas Jakarta? Apa sih yang Jakarta punya dan bisa dijadikan cinderamata? Monas? Mentok-mentok paling di kartu pos. Apa iya ada gantungan kunci Monas? Atau liontin kalung bentuk Monas? *ada yang pengen pake gak seeeehhh..* Atau miniatur Monas? Mudah-mudahan ada dan gw sekadar tidak tahu saja. Tapi rasa gw sih gw gak pernah liat ada cinderamata berbentuk Monas. Mungkin juga karena bentuknya kaku dan begitu doang kali yak. Ini tanpa bermaksud menyinggung perasaan arsitek Monas lho ya.
Apalagi deh selain Monas. Okeh, Jakarta itu identik dengan Betawi, misalnya. Lalu budaya Betawi apa yang bisa dieksplorasi dan dijadikan cinderamata? Gw gak pernah liat kostum penari tari jaipongan dijual di toko. Atau ada miniatur penari jaipong? Atau, apakah Jakarta punya kain khas? Rasanya enggak juga ya.
Lalu yang khas lagi apa dong? Hm, let's say, rumah Betawi. Rumah itu kan bentuknya asik tuh. Begitu juga dengan perabot khas Betawi yang bentuknya menarik itu. Apa iya ada cinderamata berbentuk itu? Adakah pahatan berbentuk rumah Betawi? Atau kerajinan perak dengan bentuk itu? Gw yang gak liat atau emang gak ada sama sekali?
Nah lho, apa iya trus Jakarta adalah kota tanpa identitas budaya? Kok gak ada yang bisa dijadiin cinderamata? Kota kecil seperti Malang saja punya budaya khas yaitu topeng Malangan. Apa iya Jakarta yang ibukota ini malah gak punya ciri khas budaya? Atau justru karena Jakarta yang ibukota dan multikultural ini, sehingga gak ada satu budaya yang lebih menonjol dibandingkan yang lain? 
Rasanya itu bukan pembenaran siy ye. Soalnya, ibukota mana sih di dunia ini yang gak multikultural? London deh misalnya, secara itu adalah perbandingan yang gw tau. London itu sangat multikultural jika dibandingkan sama kota-kota lainnya di Inggris yang pernah gw datengin. Kalo di Liverpool misalnya, maka isinya buleeeeee semua. Nah kalo di London, elu mau cari warna apa aja juga ada di sana. Mulai dari yang bajunya sangat terbuka, sampe yang seluruh muka dikasih cadar, ada semua. Tapi toh tetep aja London punya identitas. Paling enggak ada barang yang bisa dijadiin cinderamata. Ada Big Ben, ada London Eye, ada Tower of London, ada Tower Bridge dan yang lainnya. Bahkan Tate Modern yang bentuknya lebih kayak pabrik gini, teteup aja ada cinderamatanya.
Jadi apa yang salah dengan Jakarta sehingga gak punya cinderamata khas?
Posted by pippi at 00:56 3 comments Links to this post
Tantangan Victor
Sial, nama gw disebut-sebut di postingan ini.
Dari kemaren sebetulnya gw nahaaaaaannn bener untuk gak nulis soal poligami. Gw bosen mencaci maki perilaku poligami yang gak tau diri ini. Bawa-bawa agama sebagai pembenaran titit yang gak bisa diatur. Najong.
Begini kata Anis Matta: Islam mengatur agar penyaluran syahwat bermanfaat secara sosial.
Halaaaahh tokek. Syahwat lu aja yang lu atur sendiri. Bermanfaat secara sosial pigimane maksud luuuuu? Ha? Kalo elu pingin mengayomi anak yatim dan janda, ya silahkan aja. Silahkan bantu anak yatimnya. Elu toh selalu bisa jadi orangtua asuh kan? Bayarin pendidikan si anak itu baek-baek, sampai lulus kuliah kalo bisa. Bahkan sampe si anak lulus kuliah Fakultas Kedokteran yang pastinya suanguat muahuil itu. Itu aja elu urusin. Bayar sekolah sekarang mahal, belum lagi standar kelulusan makin tinggi sehingga peluang anak untuk gak lulus semakin besar. Nah elu pikirin aja yang kayak gitu.
Kalo elu pingin menyantuni si janda, ya boleh juga. Bikinin rumah yang bagus, kasih duit bulanan kek, kasih kerjaan kek. Kalo elu bener-bener pingin diri lu bermanfaat secara sosial kan kagak perlu itu perempuan elu kawinin! Tokek.
Begini lagi kata Anis Matta: Poligami lebih bermanfaat dibandingkan melacur.
Alaaaahh apa pula ini. Coba deh elu pikirin masak-masak. Kenapa poligami mesti dibandingin sama melacur? Apa iya pilihan poligami itu lebih baik daripada melacur? Gak ada korelasi juga antara poligami dan melacur. Dan kalau kegiatan 'melacur' dilihat dengan kacamata seperti ini, oh sungguh ini kekejian terhadap perempuan. Perempuan adalah satu-satunya pihak yang dianggap bersalah dalam kegiatan pelacuran. Gimana dengan laki-laki gak tau diri yang memakai si PSK ini? Gak pernah toh ada hukuman buat laki-laki yang memakai PSK? Perempuan direndahkan dalam banyak hal, termasuk dalam soal pelacuran. Seolah-olah perempuan lah sumber kemaksiatan di dunia patriarkis ini.
Monyet.
Yang paaaaliiinggg bikin gedeg sejauh ini adalah pernyataan Puspo Wardoyo, pemilik Wong Solo. Dia pernah bilang kalo poligami adalah pembuktian kepemimpinan laki-laki. Begitu si laki-laki selesai menjadi pemimpin bagi satu perempuan, saatnya membuktikan kepemimpinan dia kepada perempuan lain.
Maaakksssuudddd llloooohhhh????
Apa trus cuma laki-laki yang bisa jadi pemimpin? Gimana dengan laki-laki yang gak tanggung jawab abis bikin hamil perempuan? Gimana dengan laki-laki yang pelaku kekerasan dalam rumah tangga? Gimana dengan laki-laki bernisial Aa Gym yang pake sorban, tapi ngelirik perempuan lain selain istrinya sejak lima tahun lalu?
Monyet.
Karena itulah perempuan mesti mandiri. Salah satunya adalah mandiri secara finansial. Sehingga gak akan sudi mempertahankan hubungan pernikahan hanya demi pemasukan bulanan.
Dan sudah pasti, gw gak akan pernah mau makan di Wong Solo. Juga memakai produk MQ. Sori dori mori tengkiiuuuu deeehhh... iiihhh..
Posted by pippi at 00:35 1 comments Links to this post
Tuesday, December 19, 2006
Tukul Yang Gak Penting

Gw gak sebel sama Tukul yang pelawak itu. Perkara gw gak suka gaya becandaan dia yang slapstick, itu sama seperti gw tidak terlalu suka juga sama Srimulat. Sekarang Tukul lagi beken dengan talkshow 'Empat Mata' yang lagi gw tonton sekarang ini.
Gw gak pernah tau kapan sebenernya acara 'Empat Mata'. Kali ini gw cuma berkomentar berdasarkan cerita tentang program tersebut hari Senin kemarin. Agus yang cerita, juga ditambahkan oleh Fuad, dua temen gw di kantor.
Kemarin bahasan 'Empat Mata' adalah soal pembantu. Tamu yang diundang adalah Denada dan Ria Irawan yang pernah berperan dalam film/sinetron sebagai pembantu. Sampe situ sih oke-oke aja ya. Lalu tibalah sesi di mana Denada dan Ria Irawan diminta menirukan adegan pembantu lagi bekerja. Setelah itu yang terjadi adalah hal yang menurut gw sangat mengganggu.
Baik Denada maupun Ria Irawan menirukan gaya pembantu yang centil. Yang dilenggak-lenggokkan, yang dinungging-nunggingin, yang sensual begitulah. Ini semua tentu bermuara pada film 'Inem Pelayan Seksi'-nya Nyak Abbas Akub. Tapi apa yang dilakukan Denada dan Ria Irawan ini kan melecehkan pembantu. Seolah-olah pembantu itu ya emang cuma urusan seksi dan menggoda si majikan saja. Padahal ada masalah yang jauuuuh lebih berat dan serius ketimbang berlaku sensual dalam bekerja. Gaji gak dibayar, diperlakukan tidak baik oleh si majikan, tidak mendapat perlindungan yang memadai, tidak mendapat libur, dipekerjakan semena-mena dan sebagainya. Belum lagi majikan yang sering tidak mengacu pada upah minimum kota/provinsi ketika menggaji si pembantu. Nah ini kan jelas masalah yang lebih krusial, ketimbang mensinonimkan pembantu dengan hal-hal sensual. Plis deh.
Yang lebih bikin berasa gengges lagi adalah kok ya Denada dan Ria Irawan mau-maunya disuruh begitu. Ini kan juga pelecehan terhadap perempuan. Perempuan dijadikan tontonan begitu saja, dengan mau aja disuruh melenggak-lenggok dan megal-megol di depan penonton studio yang kebanyakan laki-laki itu. Ih males deh. Gak beradab banget.
Lalu ada satu kesempatan di mana Tukul berkomentar,"Perjalanannya jauh ya? Kok sangunya banyak banget," dengan merujuk ke payudara salah satu tamu perempuannya (gatau siapa). Amit-amit, begini mah udah pelecehan banget. Ngomong gak pake otak begitu one-on-one aja udah bisa masuk kategori pelecehan, apalagi ngomong di depan publik? Ini depan televisi lho, yang ditonton jutaan orang di seluruh Indonesia. Amit-amit. Itu mulut Tukul kagak ada otaknya banget.
Maaf maaf aja nih. Ini makin bikin gw gak demen sama Tukul. Selucu apa pun frase 'Kembali ke laptop' yang sering diomongin Tukul ketika memandu acara 'Empat Mata', teteup aja gw gak demen. Makin mengakar ke sanubari lah ketidaksukaan gw sama Tukul. Kalo banyak orang ternyata suka sama gaya Tukul yang begitu, ya biar aja. Tapi ada perlunya juga buat Tukul untuk belajar tidak melecehkan orang lain, termasuk perempuan.
Gw ingin berpikiran positif aja bahwa Tukul yang laki-laki, Tukul yang besar di dunia patriarkis ini, semata-mata gak tahu kalau apa yang dia lakukan itu adalah suatu pelecehan. Mudah-mudahan begitu. Amin.
Tadi gw baca selintas ketika meng-google dengan keyword "tukul empat mata". Dari salah satu situs gw membaca bahwa Tukul disukai karena gayanya yang lugu. Wah, kalo begitu lebih bahaya lagi. Apa trus lugu berarti pembenaran juga untuk melakukan pelecehan terhadap profesi (pembantu) dan orang lain (perempuan)? Ya enggak lah. Kalo trus karena lugu, Tukul jadi gak tau bahwa yang dia lakukan itu adalah suatu pelecehan, marilah Tukul itu diberitahu bahwa itu adalah pelecehan.
Bukannya bermaksud jahat sama Tukul, tapi gw ingin tahu apa jadinya kalau Tukul, juga program itu secara keseluruhan, digugat orang lantaran gayanya yang melecehkan. Yang jelas Denada atau Ria Irawan tidak akan menggugat, karena mereka malah play along sama lawakan pelecehan itu.
Najong.
Gambar dari sini.
Posted by pippi at 22:30 0 comments Links to this post
KUA dan Sodomi
Ini gw kutipkan berita dari sini.
Kapanlagi.com - Kisruh rumah tangga Ira Maya Sopha dengan suaminya, Arianto kiranya kian panjang. Pasalnya Kamis (14/12) lalu, Kapanlagi.com mendapat pesan singkat lewat handphone. Pengantar pesan mengaku hal ini dari sumber yang tak mau disebutkan namanya di lingkungan Kejaksaan Agung RI. Disana dituliskan, terungkap di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Selasa (5/12) bahwa Arianto telah melakukan tujuh kali tindakan kekerasan fisik dan mental dalam rumah tangga, yang salah satunya berupa penyimpangan seksual "sodomi" terhadap mantan bintang cilik berinisial IMS.
Yang mau gw komentarin tentu saja bukan soal Ira Maya Sopha-nya. Gw cuma berhenti membaca berita ini di paragraf pertamanya saja. Ini pun gw dapetinnya dari cetingan di kantor.
Nah yang mau gw komentarin adalah soal sodomi sebagai suatu penyimpangan seksual. Emang gitu ya? Bukannya sodomi itu sebagai varian kegiatan seksual aja? Bahwa itu gak lazim, gak enak, sakit atau apalah itu, ya itu adalah dampak dari pilihan kegiatan saja. Kan mestinya kegiatan seksual itu adalah kesepakatan si laki-laki dan perempuan. Kalo ada salah satu yang gak demen sodomi, ya jangan sodomi. Kelar, beres.
Tapi apa iya sodomi itu penyimpangan seksual?
Pas gw melontarkan pertanyaan itu di kantor, temen kantor gw, Dimas, menimpali. Dia bilang, di aturan pernikahan yang dikeluarkan KUA, ada larangan buat sodomi. Lho, masa iya begitu sih? Berhubung dia mau nikah Januari besok dan mestinya udah ngurus surat-surat jelang nikah, gw percaya aja. Tapi kan aneh. Masa iya KUA sampe ngurus soal sodomi segala?
Temen gw yang lain, Agus, menimpali. Dia bilang, ya kan anus itu bukan tempat yang lazim untuk berhubungan seksual. Tidak ditakdirkan untuk hubungan seksual lah. Nah kalo gitu, oral sex juga termasuk penyimpangan seksual dong. Mulut kan juga bukan buat gituan. Tapi kayaknya kan gak pernah denger tuh oral sex sebagai salah satu bentuk penyimpangan seksual. Kalo gituan sama mayat, nah itu memang masuk kategori penyimpangan seksual.
Sepaham gw, sodomi itu ya 'sekadar' varian hubungan seksual saja. Kalau KUA mencantumkan itu dalam aturan pernikahan berdasarkan hukum agama Islam, nah gw kagak ngarti dah. Bukannya ayat-ayat Al Quran soal sodomi, mengacu pada kisah Sodom dan Gomora, itu berlaku buat hubungan laki-laki dengan laki-laki? Kalo laki sama perempuan, apa diatur juga dalam Al Quran supaya tidak melakukan sodomi?
Setelah gw nanya sama Hilman, baru dah mudeng gw. Kata dia emang ada ayat Al Quran yang menyebut bahwa sodomi itu gak boleh untuk hubungan laki-laki dan perempuan. Dia juga bilang kalo kisah Sodom dan Gomora itu sejatinya tidak menyebut kegiatan seksual apa yang terjadi antara sesama laki-laki di situ. Tapiiii eeniiweeii, gw masih gak mudeng kenapa Al Quran mesti mencantumkan larangan sodomi.
Kenapa ya kira-kira? Ada yang tau?
Posted by pippi at 22:15 3 comments Links to this post
Monday, December 18, 2006
Berhasil, berhasil, hore!
Akhirnyaaaaaaaaa... blog gw nongol juga. Amin amin amin. Terima kasih ya Tuhan.
Ini semua berkat inspirasi dari Eci. Suatu ketika dia ngusul, mungkin perlu ganti template baru nongol itu blognya. Hm, bole juga nih dijajal usulnya. Dan bener aja, begitu gw ganti template, nongol deh!
Berhubung gw tidak sabaran, maka tadi pagi begitu bangun gw langsung utak-atik blog. Nyari-nyari template yang saik dalam hitungan menit saja. Akhirnya nemu yang mayan dan sederhana. Gw emang demennya template yang polos-polos aja. Kalo bisa warnanya putih supaya kalo naro foto jadi gak bentrok warnanya. Sebisa mungkin template itu adalah template yang bisa dimasukin gambar pippilotta, hiehiehie..
Jadi, saya senaaaaaaaaanng sekali deh! Tapi kenapa ini template ngiri abis gini yak? Huhu, mesti dikutak-katik lagi daaahh.. caffeeii deeiii...
Eniwei, happy anniversary buat nyokap-bokap ekye. Hadiahnya udah kan? Kikeiekeiek..
Posted by pippi at 09:44 0 comments Links to this post
Wednesday, December 13, 2006
Aku Kehilangan
Sudah beberapa hari ini gw gak bisa mengakses blog gw sendiri. Gw bisa ngupdate seperti biasa, seperti yang gw lakukan sekarang ini. Tapi gw gak bisa melihat hasilnya. Huhuhu, benci benci benci. Padahal kan ya tentu saja gw narsis sama tulisan sendiri. Pengen memandang-mandangi tulisan gw, seolah-olah gak pernah gw liat, padahal gw sendiri yang ngetik panjang lebar.
Mangkanya rasanya gondok banget karena gak pernah bisa mengakses blog gw sendiri sekarang. Kalo lagi loading, maka dia berhenti di meloading 17 items. Padahal kan ya satu halaman blog aja kan lebih dari 17 items. Total items yang nongol dan berhasil muncul cuma sampai garis biru yang ada tulisan 'next blog' di pojok kanannya itu. Udah cuma sampe situ doang. Huhuhu, syebeeelll...
Gw pikir tadinya ini pasti kesalahan di komputer gw doang. Mungkin lelet, mungkin lemot. Tapi ternyata Hilman juga gak bisa mengakses blog gw dari komputer lain. Tuuuhh kaaann gw makin berasa gengges.
Lalu tadi pas mampir blog kodoksakti, gw iseng-iseng posting comment. Gw ngadu kalo gw gak bisa narsis sama tulisan gw sendiri. Eh ternyata jawaban Victor begini: "lho, itu gak sengaja to? kirain lo emang dah pensiun... kekekekkkk"
Huhuhu.. jadi ini serius gak bisa dibuka siapa pun nih blog gw? Bagaimana iniiiii... huhuhu... benci benci benciiiii...
Posted by pippi at 20:34 0 comments Links to this post
Exercising
Semalem gw ketemuan sama M'Eni, Sly, Djatu dan M'Deddy. Kumplit. Eh enggak deng. Tapi paling enggak tinggal Rini niy yang belum balik ke negeri sarat bencana dan kemiskinan ini.
Kita ketemuan di Plaza Senayan. Tika gak jadi ikut karena dia baru pulang dari ngeliat elang Jawa. Edunnya dia sms sekitar jam 8 malam dan ngasih tau kalo "kayaknya bakal kemalaman sampai Jakarta". Laaahiiya laahh.. udah jam 8 malem juga gitu.. udah pastiiii bakal kemaleman, hiehiehie.. Citta juga gak ikutan karena besoknya dia mesti pergi somewhere outhere begitu deh.
Berhubung kita ketemuan dalam waktu yang sempit, maka gak bisa leha-leha ngobrol. Saling mengupdate diri lah. Mas Deddy balik ke hukumonline, Sly sekarang di Blitz sementara gw dan Mbak Eni ya begono-begono wae. Jadilah Sly yang banyak cerita soal calon pesaing 21cineplex itu. Yeihhaaa.. selamat tinggal monopoli!
Kita mau tak mau suka tak suka mesti bubaran ngobrol jam 10 malem teng. Soalnya lampu juga udah dimati-matiin, hihihi. Gw dan M'Eni dianterin sama Djatu-M'Deddy ke hotelnya M'Eni, sementara Sly balik pake taksi. Djatu berkali-kali nanya, kok gw gak nginep di hotelnya M'Eni, secara gw dulu senasib sepenanggungan selama setahun penuh. Tapi entah mengapa sumpah mati gw gak pernah kepikiran buat nginep di hotelnya M'Eni. Terbersit pun enggak. Kayaknya sih M'Eni juga begitu. Mestinya dia lebih kangen lakinya daripada kangen gw, haha!
Di kamar M'Eni, kami membongkar barang dari Djatu. Itu adalah box terakhir dari London. Isinya barang-barang yang ngeberatin koper sehingga mesti digusur dan dikirim pulang lewat kontener, nitip ke Djatu. Waktu dulu nitip sih ada sepatu kets gw yang masih basah, mudah-mudahan itu sepatu gak busuk, kekekek..
Setelah pilih-pilih barang dan membagikan sesuai pemiliknya, gw menata barang yang mau gw bawa pulang. Daripada ribet mikirin plastik, mendingan gw taro balik ke dalam box itu. Biar ringkes, tinggal bawa satu kardus doang. Kardusnya segede kardus TV 14 inch gitu kali yak, tapi ya enteng.
Meski enteng, males juga kalo gotong-gotong. Mangkanya itu kardus kita dorong-dorong aja pake kaki. Gw dan M'Eni ganti-gantian ndorong. Kalo kita ndorong dalam posisi badan membungkuk itu kan bisa bikin tulang punggung dapat beban terlalu berat toooh.. jadi mendingan itu kardus ditendang-tendang aja..
Lorong dari kamar M'Eni sampe ke lift itu lumayan juga. Di ujung sana sebenernya ada mas-mas petugasnya, tapi entah mengapa dia gak tergerak untuk mendekat dan membantu kita. Huh, nakal kamu. Kitanya juga gak minta bantuan siy, hihihi.
Begitu deket lift, ada orang Jepang keluar dari lift. Turis Jepang banget deh tampilannya, pake kemeja Hawai gitu, trus pake kacamata. Ih emang semua turis Jepang kayak gitu? Kekekekek...
Di sesi inilah M'Eni sungguuuuuuuh ajaib. Berhubung dia maha ramah sama siapa pun, M'Eni senyumlah ke si orang Jepang itu. Sambil teteup mendorong kardus dengan kaki. Dia senyum, mengangguk kecil, lalu bilang ke si orang Jepang, "Exercising..." sambil ndorong kardus pake kaki.
Laaaaahhhh... ade apeeee pula pake bilang "Exercising" segala sama itu turis...
Gw jadi berasa kayak di salah satu adegan film Dono-Kasino-Indro...
Gw langsung terpingkal-pingkal begitu denger M'Eni ngomong "Exercising" ke si orang Jepang.
Gw teringat juga ketika gw dan M'Eni plesir ke Koln. Waktu itu kan lagi musimnya Piala Dunia tuuuhh.. Nah kita ceritanya lagi keluar rumahnya Mas Ging, menuju ke manaaaa gitu, mungkin mau ketemu Nita yah. Pas di jalan itu tuh ada tukang-tukang yang lagi benerin rumah. Mereka berdiri-diri aja gitu di luar rumah, sambil kerja tentunya. Tapi mereka memang kebetulan lagi ngeliat ke arah kita. Andaikan itu di Jakarta, udah pasti para tukang itu manggil-manggil gak genah dengan nama-nama perempuan dari Dewi sampe Sinta, huh.
Ini M'Eni emang ramah atau ajaib, entah lah. Begitu lewat pak-pak tukang ini, M'Eni bilang, "Germany, yes!", sambil mengepalkan tinju gitu.
Maaaaakkkkk... malunyaaaaaa... Masiya aulooohhh... itu apa-apaan nyebut "Germany, yes!" begonooooo... ckckckckck...
Terlepas dari soal exercising atau Germany yes, satu hal penting yang terlupakan di pertemuan Plaza Senayan semalem.
L U P A F O T O.
Benci benci benciiiiiiiiii... Kenapa otak ini palupi sekaliiii..
Posted by pippi at 11:05 0 comments Links to this post
Monday, December 11, 2006
Hati Yang Luka
Minggu kemarin gw makan di Mas Miskun Percetakan Negara bareng bokap gw. Sambil makan, diputar lagunya Betharia Sonata. Apalagi kalau bukan "Hati yang Luka". Eniwei toh, lagu dia apa lagi siy yak?
Gw gak inget persis lirik lagu "Hati yang Luka" itu. Gw cuma inget bagian 'lihatlah tanda merah di pipi' dan bagian refrainnya. Gw gak inget bagian akhir lagunya, apakah memang ada suara si laki-laki yang menampar dan suara anak-anak mereka, atau bagaimana. Jangan-jangan itu adalah lagu sahutan "Hati yang Luka" atau whatever deh. Kan demen banget tuh lagu sahut-sahutan zaman dulu.
Naahh, berhubung Google itu maha piawai, maka gw temukanlah itu lirik lagu yang gw maksud. Ternyata lagu yang gw denger itu bener-bener lagu sahutannya "Hati yang Luka". Judulnya adalah "Tiada Duka Lagi", yang nyanyi Obbie Mesakh. Udah deh tuh duet cengeng paling mantep, Betharia Sonata dan Obbie Mesakh.
Pas bagian anaknya nyanyi, ternyata begini liriknya:
"Ayolah Mama buanglah amarah
jangan simpan di hati
Ayolah Mama semua demi kami
anak-anak Mama"
Iiiiihh.. tokek. Ini anaknya gak adil banget. Yang nampar siapa? Yang laki toooohhh.. Lah kenapa yang mesti membuang amarah itu si perempuan? Nah itu laki-laki trus disuruh apa? Dikira kelar dengan minta maaf doang? Gimana kalo namparnya berulang kali? Apa trus tetep perempuannya yang mesti membuang amarah? Trus apa peran laki-lakinya dong?
Nah ternyata di bagian laki-lakinya, liriknya begini:
"Berulang kali aku mencoba
s'lalu untuk bertahan
walau air mata darah yang kau titikkan
tak 'kan kumaafkan"
Laaaahhh.. lebih males lagi. Situ gak mau maafin? Oke! Ya cerai aja! Ngapain nyodor-nyodorin anak segala buat baikan... nah situnya gak mau maafin. Huh.
Ih malesss dehhh.. KDRT kok dipiara. Mending laki-laki pelaku KDRT itu dihukum kebiri aja. Eh jangan. Hukuman itu mendingan buat laki-laki yang poligami aja, haha!
Amit-amitttttt jangan sampe gw ketemu laki kayak begitu. Bisa gw tempiling bolak balik.
Btw, silahkan baca tulisan tentang "Hati yang Luka" oleh Philip Yampolsky di sini
Posted by pippi at 10:11 0 comments Links to this post
Friday, December 08, 2006
Gaswat
From: bambang wisudo bambangwisudo@ yahoo.com
(wartawan Harian Kompas)
Untuk kawan-kawan yang setia,
Saya bermaksud minta dukungan kawan-kawan terhadap kasus yang menimpa diri saya selaku sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas, serikat pekerja resmi di Harian Kompas. Baru-baru ini kami pengurus berhasil memaksa perusahaan bernegosiasi soal kejelasan kepemilikan saham kolektif karyawan Kompas. Kesepakatan telah ditandatangani. Meski kami kehilangan saham, kami bisa memperoleh jaminan untuk memperoleh deviden 20 persen. Tapi sebelum kesepakatan dilaksanakan, minggu lalu muncul keputusan, empat orang pengurus dimutasi. Saya akan dibuang ke Ambon.
Kawan-kawan tahu, bahwa ini pelanggaran serius terhadap UU Serikat Pekerja. Pembuangan saya sebagai aktivis SP jelas dengan maksud memberangus gerakan pekerja yang kami rintis sejak 1998. Menurut UU itu, pelanggarannya dikategorikan sebagai tindakan pidana dengan ancaman hukuman lima tahun aktivis SP jelas dengan maksud memberangus gerakan pekerja yang kami rintis sejak 1998. Menurut UU itu, pelanggarannya dikategorikan sebagai tindakan pidana dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda Rp 500 juta. Saya telah memutuskan untuk melakukan perlawanan. Saya akan membawa kasus ini ke pidana dan perdata.
Berhubung usia saya yang sudah makin tua, tentu saja saya tidak bisa melawan sendiri. Di tubuh intern Kompas, saya sulit memperoleh solidaritas yang dinyatakan eksplisit. Mereka takut, termasuk sebagian besar dari anggota AJI di sana yang jumlahnya sangat sedikit. Saya minta tolong pada kawan-kawan untuk melakukan advokasi. Masalah ini telah bicaraan dengan pengurus AJI Indonesia dan AJI Jakarta. Minggu depan saya resmi membuat pengaduan.
Terima kasih
P Bambang Wisudo
Koordinator Divisi Etik dan Profesi AJI
Jawaban Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo lewat SMS kepada Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Heru Hendratmoko, agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan terhadap Wisudo:
"Kami tak pernah punya tradisi tersebut." (maksudnya seret menyeret satpam kepada wartawan)
Soal pemecatan, Tomi menjawab, "Ini urusan internal dan profesionalisme. Apakah tujuan AJI sudah berubah? Rasanya kami tahu caranya mengatur diri sendiri."
Hari ini, ketika Bambang Wisudo mau ke kantor Kompas, dia ditahan satpam, dibawa ke ruang satpam dan tidak boleh keluar.
Selain Bambang Wisudo, ada tiga wartawan Kompas lain yang kena.
Posted by pippi at 17:10 1 comments Links to this post
Wednesday, December 06, 2006
Light My Fire
Monyet, jam segini gw masih aja ada di kantor.
Rock in Rabu membuat gw bertahan sebentar. The Train nyanyi Light My Fire-nya The Doors keren juga. Meskipun gw juga gatau siapa itu The Train yak.
Urusan pritilan yang tiba-tiba jadi mesti gw urusin karena bos-bos lagi pada rapat manajemen membuat gw nunggak kerjaan. Banyak kerjaan, tepatnya. Huhuhu..
Jadi ya kita nikmati saja lagu-lagu The Doors sekarang.
Tamu Rock in Rabu barusan ngomong,"The Doors tanpa Jim Morrison sama juga ble'e." Halah apa pula itu ble'e.
Posted by pippi at 22:16 0 comments Links to this post
Hamil
Kemarin kakak gw dan lakinya datang ke rumah dengan berita gembira. Kakak gw hamil. Yeihaa... Selamat datang keponakan kedua!
Pas mereka ngasih tau nyokap bokap gw, mereka langsung pandang-pandangan. Halah kayak sinetron. Untung abis itu gak buyar air mata, kiekeikeik. Sementara Salsa, yang ada juga di sana pas kakak gw ngasih tau nyokap-bokap, gak percaya. Dia langsung bilang,"Mbak Gita boong," sambil ngeplak perut kakak gw.
Lah. Iki piye. Masa hamil dibilang boong.
Trus kakak gw menjelaskan bahwa di dalam perut dia sekarang ada dedeknya. Salsa baru percaya begitu liat foto USG. Baru cimot doang, titik hitam gitu. Nah abis liat itu baru deh berbinar-binar. Dia ngotot nanya,"Namanya siapa?" Laaah, ya masa janin 5 minggu udah dikasih nama? Udah dibilangin berkali-kali kalo dedeknya belum punya nama, eh Salsa gak percaya juga. Trus kakak gw ngalah. "Ya udah deh Salsa aja yang namain. Namanya siapa?" Langsung Salsa nyaut,"Dona."
Halah.. dari mana pula itu nama Dona...
Jadi siapa pun itu namanya, Dona atau Dono (kalau laki-laki), maka kita sambutlah kehadiran si calon keponakan kedua gw itu. Setelah dapet ponakan instan yaitu Rain yang ketemu gede, kali ini giliran gw berperan sebagai tante yang memantau dari kecil sampe gede. Sebaiknya itu anaknya kakak gw dijatohin juga dari lemari gak ya, seperti dulu Tatah ngejatohin gw? Kiekeiekiek..
Berhubung gen autis lari-lari dalam keluarga gw, mudah-mudahan gak nyangkut lah di anak kakak gw. Kalaupun iya, gak berarti dunia runtuh. Tenang aja. Toh kita udah punya bekal pengetahuan yang cukup untuk menerima dan - mudah-mudahan - mendidik anak autis. Juga mudah-mudahan gak thalasemia, gak kena penyakit-penyakit darah lainnya yang juga lari-lari di keluarga gw.
Lah kok banyak amat ya penyakitnya? Kiekeiekeik..
Posted by pippi at 11:39 4 comments Links to this post
Sunday, December 03, 2006
Apa Kata Orang
Kemarin pas Salsa sekolah, dia pingin pakai ransel barunya. Tas Minnie Mouse, warna pink, dibeliin mamahnya. Tas itu sebenernya masih kegedean dibandingin sama badan Salsa yang kerempeng itu. Upaya-upaya menggagalkan dia memakai tas itu udah beberapa kali dilakukan, tapi dia kekeuh. Ya su.
Karena itu tas emang dasarnya kegedean, maka tali ranselnya juga kepanjangan. Ngawer-ngawer gitu, sampai ke lantai. Nah bahaya kotor kan tuh. Lalu gw usulkan ke dia supaya talinya dilipat lalu diikat pakai karet, biar rapi.
Kemudian Salsa menatap gw dengan wajah sangat cemas, dahi berkernyit. Wah ada gelagat penolakan nih.
"Jangan! Nanti apa kata temen-temen Salsa?"
Masiya ampyun! Gw sampe bengong. Buset, masa anak umur 4 tahun udah mikirin gimana kata orang?? Halah halah.. berat bener hidupmu nak..
Menjadi perempuan di dunia ini berat nak. Pake baju seksi, disuit-suitin abang-abang jail di ujung gang yang nongkrong di warung, atau dianggap mengundang perkosaan. Belum lagi mesti berhadapan sama orang-orang berpikiran sempit yang berpatokan sama 'kodrat perempuan', yang sejatinya cuma melahirkan dan menyusui. Dituntut mesti menyeimbangkan kehidupan kerjaan dan rumah tangga, sementara laki-laki gak mendapat tuntutan yang sama. Menjadi single mother yang gak mudah karena anak yang dilahirkan gak bisa dapet akte kelahiran, atau harus bersedia nanar menatap akte kelahiran anak yang bertuliskan 'anak haram'. Seringkali gak punya posisi tawar yang kuat di hadapan dunia patriarkis.
Jadi kalo di umur 4 tahun udah mikirin 'apa kata dunia' lantaran tali ransel yang diikat, dwoooohhh..
Kita mesti belajar gak peduli apa kata orang lain. Apalagi membiarkan orang lain mengatur hidup kita. Hidup cuma sekali, maka bersenang-senanglah!
Posted by pippi at 11:15 3 comments Links to this post
Friday, December 01, 2006
Selamat Hari AIDS
Langkah paling awal yang bisa dilakukan kita semua, dengan atau tanpa tahu banyak informasi soal HIV/AIDS, adalah tidak mendiskriminasi mereka. Salah satu bentuknya adalah dengan menggunakan sebutan yang benar.
Beberapa sebutan yang sering kita dengar adalah penderita, pengidap atau orang dengan hiv/aids (odha). Mana yang benar?
Penderita - Sebutan ini adalah sebutan yang diskriminatif. Dari mana kita tau mereka menderita atau enggak? Kalaupun mereka menderita, toh kita juga gak perlu nambah-nambahin masalah mereka dengan melabel mereka sebagai penderita toh?
Pengidap - Kata 'pengidap' ini asosiasinya dengan penyakit. Padahal orang yang punya HIV di dalam tubuhnya belum tentu menunjukkan gejala-gejala fisik yang sakit. Apalagi kalau orang itu minum obat anti retroviral yang bisa menekan pertumbuhan virus. Orang itu bisa beraktivitas seperti biasa, dan sungguh tidak terlihat sakit.
ODHA - Ini adalah singkatan dari Orang dengan HIV/AIDS. Sebutan ini yang lebih disukai oleh mereka yang punya kondisi istimewa ini. Ini juga sebutan yang netral dan tidak diskriminatif.
Seperti kata seorang kawan yang kemarin liputan di Depkes dan ODHA, mereka bilang begini:
"Kami lebih suka disebut ODHA, masyarakat salah mengira kalau kami menderita. Tidak, kami bukan penderita atau pengidap. kami mati bukan karena virus HIV, tapi penyakit lain karena lemahnya tubuh kami. Jadi tolong wartawan sebut kami ODHA."
Jadi begitu ya. Mulailah berlaku tidak diskriminatif dengan menyebut mereka secara benar.
Selamat hari AIDS!
Posted by pippi at 09:25 1 comments Links to this post