Alkisah ada pasutri, laki-laki bernama Anu dan perempuan bernama Ina. Sekian bulan kemudian, lahir si anak. Si anak baru hitungan bulan, Anu mulai sakit-sakitan. Tak jelas sakitnya apa. Panas tinggi, menggigil, keringat mengalir deras seperti banjir. Semua keluarga bingung, sakit apa gerangan si Anu ini? Ina selaku istri sama tak mengertinya.
Lalu si dokter memanggil kakak Ina dan menanyakan riwayat kesehatan Anu. Kakak Ina mengaku tak tahu apa-apa karena tak sempat mengenal Anu semasa lajang. Pada saat yang sama dokter ternyata juga menanyakan kepada Anu tentang riwayat kesehatannya sendiri. Setelah ditanya berkali-kali, barulah Anu mengaku kalau waktu dia lulus SMA, dia sempat nyuntik narkoba ramai-ramai bersama temannya. Satu suntikan untuk banyak orang. Tring tring, ring a bell? Tak berapa lama, Anu meninggal karena AIDS. Dari seluruh anggota keluarga, yang tahu hanya dua kakak Ina. Sudah, hanya mereka saja. Plus si istri, tentu saja.
Ina sudah diminta untuk melakukan tes HIV. Hasilnya, negatif. Tapi bukankah perjalanan penyakit HIV/AIDS selalu mengenal window period alias periode jendela? Hasil tes pertama bisa saja negatif, tapi jika dites lagi bisa saja baru muncul itu virus di hasil laboratorium. Tapi Ina tidak tahu dan tidak pernah mengulang tes. Padahal dia adalah istri Anu, yang meninggal karena AIDS, sehingga sudah pasti Ina tertular virus HIV dari suaminya.
Terhitung tahun ini Anu sudah 3 tahun meninggal. Anak Anu dan Ina semakin besar. Lalu sang ibu, si Ina, mulai sakit-sakitan sampai dirawat di rumah sakit. Sebelumnya Ina pernah dirawat di rumah sakit akibat sakit maag. Lalu sekarang, diinfus, tubuh lemas, tak bisa menelan obat, lidah memutih. Diagnosa dokter adalah sakit paru-paru.
Beberapa hari lalu kakak Ina dipanggil. Hasil tes darah sudah keluar. Ina mengidap AIDS.
Segera saja si anak dites darah. Anak sekecil itu dites darah untuk memeriksa HIV/AIDS. Aih. Kemungkinan anak tertular virus HIV dari ibunya memang selalu ada, lewat kandungan serta ASI. Untung saja hasil negatif.
Banyak orang sudah tahu penyakit AIDS, tapi masih banyak yang tidak tahu gimana harus bersikap dan bertindak kalau anggota keluarganya ada yang divonis, atau bahkan meninggal karena, AIDS. Oke, dokter bilang si Anu meninggal karena AIDS. Lalu?
Betul, bagus dokternya langsung meminta si istri untuk tes HIV. Mestinya si dokter bisa lebih proaktif, dengan meminta si istri untuk meminta tes ulang. Tapi kalaupun si dokter sudah meminta si Ina untuk tes ulang, apakah Ina bakal melakukannya? Mahal lho harga tes HIV. Apalagi hasil tes awal adalah negatif. Bukankah hasil laboratorium negatif selalu membuat semua orang merasa lega dan (otomatis) ‘sehat’? Mungkin mestinya si dokter menjelaskan rinci tentang apa itu window period dan bahwa tes ulang HIV/AIDS sama pentingnya dengan tes pertama. Bahwa tes harus terus menerus dilakukan dengan kondisi si istri yang sudah pasti ketularan virus dari suaminya. Tapi itu sebatas ‘andai saja’.
Sekarang kondisi Ina makin tak karuan. Tubuh makin lemas, kondisi tak kunjung membaik. Obat ARV atau anti retroviral – obat untuk menekan perkembangan virus HIV - sudah diberikan, terlalu terlambat untuk kondisi Ina yang sudah makin lemah. Andai saja ada di antara keluarga mereka yang ngeh HIV/AIDS, pasti obat ARV itu bisa diberikan lebih dini. Virus bisa dimatikan lebih awal sehingga Ina tak perlu sesakit sekarang. Tapi kalau sudah terlanjur seperti ini, apa boleh bikin?
Sudah dua pekan Ina dirawat di rumah sakit. Hari berganti, ongkos bertambah. Siapa yang disuruh membayar? Memang ada jamsostek, tapi asuransi hanya membayar biaya menginap di rumah sakit toh? Siapa yang harus bayar tiga botol infus setiap harinya? Siapa yang harus bayar obat ARV tiap harinya? Dengan kondisi Ina yang terus memburuk, apa sebaiknya Ina menunggu ajal di rumah sakit demi menghemat biaya?
Kejam betul ya kedengarannya. Dibiarkan menunggu ajal. Tapi siapa yang disuruh bayar biaya rumah sakit? Okelah kalau kita tidak mau sekejam itu: Ina dirawat saja di rumah. Tapi apa ada anggota keluarga yang tahu cara merawat pengidap AIDS di rumah? Apa ada anggota keluarga yang tahu cara menancapkan jarum infus? Siapa yang disuruh menjaga Ina setiap harinya?
Semua pilihan sama sulitnya. Satu-satunya hal yang bisa disyukuri saat ini adalah hasil tes negatif dari si anak.
Kalau gw gak punya bokap yang aktif di bidang AIDS, mungkin gw juga gatau soal window period. Kalau gw gak awas soal penyakit ini, mungkin gw gatau gimana cara bertindak jika ada anggota keluarga yang kena HIV. Banyak orang sekadar tahu adanya penyakit HIV/AIDS, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Sial sial sial.
Saturday, September 30, 2006
Sial
Posted by pippi at 10:31 4 comments Links to this post
Tuesday, September 26, 2006
Mengapa MP3 Player Bukan buat Warga Jakarta
Sebagai warga Jakarta kebanyakan, maka gw lebih banyak pake angkutan umum dan bukan pake kendaraan sendiri. Meski di dompet ada SIM A, teteup aja gw gak pernah nyetir. Pernah sekali nyetir abis dapet SIM, trus nabrak mobil pick up. Kayaknya abis itu bokap gw hilang kepercayaan sama gw. Ciyeh, dramatis amat, keikeiekei.. Padahal gw-nya juga yang males bawa mobil. Karena pake mobil itu berarti mesti tau jalan dan gak boleh tidur sepanjang perjalanan. Enggak gw banget tuh. Jadi, singkat kata, mendingan kita pake transportasi umum aja dwongs. Sekalian menguji ketangguhan Sutiyoso memperbaiki kondisi transportasi Jakarta gichuw.
Lalu gw pun berakrab ria dengan berbagai kendaraan umum: metro mini, bus, ojek, juga taksi. Pas di London kemaren, gw beli iRiver yang bisa buat radio, ngerekam dan MP3. Maksudnya siy emang buat teman gw di perjalanan kelak dengan berbagai moda transportasi umum itu. Secara di London semuaaaaaaa orang di mana-mana itu pake MP3 player gitu lhow, kali aja gw bisa mengadopsi kebiasaan itu untuk di Jakarta.
Jadilah tadi siang gw menjajal. Gw pergi ke Kelapa Gading pake angkot. Selama di angkot siy relatif aman ya. Suara bising kendaraan sih ada, tapi gw teteup bisa menikmati bunyi-bunyian dari iRiver gw. Wah bagus deh kalo begitu. Gw bisa baca buku dan dengerin lagu atau radio sembari menikmati perjalanan. Kalo ke kantor gw kan mesti pake angkot tuh, baguuusss..
Abis itu gw jajal pake metromini, pas dari Gramedia Matraman menuju kantor gw. Wah ternyata wasalam aja kalo pake iRiver itu di metromini. Kalaaahh total sama derum metromini. Gak kedengeran apa-apa. Pilihannya adalah mentokin volume tapi berisiko budek. Nah ini kan males. Tanpa risiko itu pun gw suka gak mudeng, kikeiekeike.. 
Terakhir, gw jajal menggunakan MP3 player ini pas pake ojek. Wah, ternyata gagal juga. Apalagi pas di lampu merah, udah pasti gak kedengeran apa-apa. Eh tapi di segala suasana deng. Mau motornya jalan kek, mau motornya berhenti di lampu merah, teteup aja gak kedengeran. Kalopun kedengeran ya sayup-sayup. Iya sih radio itu media selintas, tapi kalo udah selintas trus bunyinya sayup-sayup kan sama aja boong.
Jadi itu ternyata sebabnya MP3 player itu bukan buat warga Jakarta yang kebanyakan menggunakan moda transportasi umum. Mau dipake di mana coba? Beda banget lah sama London yang transportasi umumnya gak berisik. Pilihan moda transportasinya ya bus atau tube, yang sama-sama gak berisik. Jadi kalo pake MP3 player ya aman-aman aja. Dan bener aja kan, di London itu semuuuuaaaaaa orang pada pake earphone di mana-mana. Jalan kaki kek, nunggu bus di halte kek, di tube kek, belanja kek, pake earphone semua.
Nah kalo di Jakarta? Mendingan juga kupingnya dipake buat menikmati derum motor dan deru metromini!
Posted by pippi at 19:46 3 comments Links to this post
Lari-lari Dalam Keluarga
Keluarga gw udah ikrib abis sama berbagai jenis 'penyakit' yang lari-lari dalam keluarga, alias running in the family. Bukan panu atau kudis dong, tapi penyakit-penyakit yang sifatnya lebih serieuse. Misalnya penyakit thallasemia.
Gw dan kakak gw itu mengidap thallasemia minor. Thallasemia itu penyakit darah. Tau kan kalo sumsum tulang belakang itu yang memproduksi darah? Nah darah yang diproduksi sumsum tulang belakang kami itu kualitasnya jelek, trus si sumsum ini juga ngos-ngosan ketika memproduksi darah. Jadi, udah kualitasnya jelek, dikit pula jumlahnya. Kurang lebih kayak gitu ya. Thallasemia gw dan kakak gw itu datangnya dari bokap-nyokap, yang juga pengidap penyakit yang sama. Kalo menurut itung-itungan di atas kertas, mestinya di antara kami anak-anaknya ada yang mengidap thallasemia mayor. Kalo emak gw punya anak ketiga atau keempat, mungkin salah satu dari mereka bakal mendapati thallasemia mayor itu. 
Kalo udah kena thallasemia mayor itu serem. Darah mesti 'ditambahin' secara periodik. Kayak si anak kecil dalam foto ini deh. Nah tapi kalo darahnya ditambahin (darah dengan kualitas bagus, tentunya), maka kadar Fe atau zat besi dalam darah kita jadinya ikut berlebihan. Nah, kadar Fe berlebihan itu kalo gak dikeluarin dari tubuh akan membuat kulit si penderita terlihat hitam-hitam. Jadi gak keren gitu deh. Karena itu mesti ada obat lagi yang disuntikkan ke tubuh untuk mengeluarkan kadar Fe yang berlebih itu. Ribet ya bow? Udah darah mesti ditambah, eh trus kadar zat besinya masih mesti dikeluarin lagi.
Kelak kalo gw mau nikah, maka pasangan gw gak boleh mengidap thallasemia minor juga. Soalnya kalo iya, bisa berabe karena itung-itungannya kan bisa aja anak gw kelak bakalan berkemungkinan kena thallasemia mayor. Huhuhu serem. Udah serem, mahal pula.. kan tambah ngenes, huhuhu.. 
Trus sepupu gw, Ikhsan, dia tuh autis. Autis itu sifatnya genetik, jadi bisa aja di silsilah keluarga gw berikut-berikutnya bakal ada anak yang autis juga. Gw gak ingin menganggap autis ini sebagai suatu penyakit, karena memang gak ada kelainan fisik dari si autis ini. Coba liat itu Ikhsan. Sehat segar bugar, jerawatan layaknya anak ABG, seneng liat foto-foto perempuan cantik di majalah layaknya ABG, tingginya udah sepintu. Coba sebut, di mana hayo letak 'penyakit'-nya secara fisik. Gak ada kan?
Tapi kondisi autisnya Ikhsan membuat komunikasi dia terbatas. Misalnya, kita harus berkomunikasi dengan dia secara sederhana. Kalo ribet-ribet kalimatnya, dia mah wasalam aja. Tapi itu justru bagus dong. Ngapain juga kita berkomunikasi pake bahasa yang ribet kalo bisa dengan bahasa simpel? Jadi ini gw anggap sebagai peringatan bagi kita semua yang suka berbahasa ribet. Meski Ikhsan gak bisa ngomong, dia bisa berkomunikasi sama orang. Yang namanya berkomunikasi gak harus ngomong toh? Bahkan bahasa sandi atau isyarat pun adalah bagian dari komunikasi.
Kebanyakan orang masih suka 'malu' kalo punya kerabat yang autis. Gw mah malah bangga. Karena Ikhsan teteup bisa tumbuh sehat sempurna, lengkap dengan kemampuan dia untuk berkomunikasi. Terbatas sih iya, tapi itu bukan kekurangan toh? Perkara 'menyembuhkan' autis itu masih jauh lah. Lah wong sumber penyakitnya aja masih jadi perdebatan sampe sekarang, gimana juga 'menyembuhkan' autis. Jadi yang jauh lebih penting sekarang buat Ikhsan dan anak-anak autis lainnya adalah membuat mereka mandiri dan, tentunya, bahagia. Orang yang 'berkelainan' kan dianggap sebagai beban kalo mereka gak mandiri. Nah kalo udah mandiri, ya udah, gak ada soal dong? Ya kan.. 
Penyakit gw yang lain adalah migren. Migren ini udah jadi bulan-bulanan gw dari SMP. Pas awal-awal gw diserang migren, bisa tiap hari tuh gw tersiksa lahir batin. Leher gw dulu udah sempet disinar segala macem, karena tegang banget. Gile, masih SMP aja urat leher gw udah tegang, gaya banget gak seeeiih..
Dulu kakak gw paling sering ngeledek kalo gw dan nyokap udah durjana akibat migren. "Penyakitnya dilawan dong!" Monyet. Dikata enak apa pas lagi migren? Makanya sekarang gw nyukurin balik kalo kakak gw lagi merana kena migren, biar tau rasa, huh. Sumber penyakit migren buat tiap orang itu beda-beda, tapi makanan jelas mesti diawasi. Setelah mengamati dan mencermati, maka sumber migren gw adalah hal-hal duniawi yang enyak: cokelat, keju, minuman soda. Duh, padahal kan mereka itu trio makanan enak, huhuhu. Tapi yaaaaaaaa kalo mau sok bijak pan segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. Ciyeh, sok-sokan.. keikeiekie..
Penyakit tante gw, Tatah, juga memberi alarm bagi kehadiran penyakit lain dalam keluarga gw. Masih soal darah juga. Coba bayangkan darah kita itu sebagai es cendol. Darah itu kan ada yang cairan juga ada yang keping darah toh? Nah, santan (alias darah cair)-nya itu mengental, sementara cendolnya (keping darah) itu nempel di pembuluh darah. Akibatnya tentu saja aliran darah jadi terganggu. Sumbatan bisa terjadi di mana aja, termasuk di otak. Nah kalo tersumbatnya pas di otak, berarti stroke toh? Berarti ngeri toh? Ngeriiii..
Pelajaran yang gw petik *halah* adalah seterbiasa-terbiasanya gw sama penyakit aneh-aneh di keluarga gw, teteup aja berasa gegar kalo nemu penyakit baru. Dan sejatinya itu semua adalah peringatan bagi seluruh anggota keluarga gw untuk bergaya hidup sehat. Banyak makan sayur, banyak minum air putih, dan segala kebiasaan sehat lainnya. Tapi entah mengapa, gw teteup aja gak suka sayur dan teteup gak suka air putih. Padahal alarm juga udah bunyi di mana-mana. Payah payah payah.
Dan sekarang gw baru menemukan ada satu penyakit lagi. Bukan di keluarga gw, tapi di orang yang sangat dekat sama keluarga gw. Penyakitnya berat, meski korbannya udah banyak tapi kebanyakan orang gak paham-paham amat soal penyakit ini. Serem. Tapi atas nama asas kerahasiaan penyakit pasien, maka sengaja gak gw sebut di sini. Huhuhu.
Posted by pippi at 05:00 3 comments Links to this post
Monday, September 25, 2006
Pengendara Motor Ibukota
Setelah nyampe Jakarta, gw mulai berakrab-akrab ria lagi sama motor. Untungnya gw emang lahir batin demen ngojek, jadi mantep-mantep aja lah bersama Hilman mengarungi ibukota yang kejam dan berpolusi ini dengan motor.
Pertama-tama, helm yang diperuntukkan buat gw ternyata rusak. Jadilah waktu itu abis kawinan Galih kita mampir di mana gitu trus beli helm. Helm itu seperti fashion rupanya, ada trend-nya sendiri. Helm yang gw pake sekarang jelas saja helm paling trendi sekarang ini, heiheiheihei. Selain trendi, murah juga gitchuw, kikikikik. Sialnya gak ada warna merah, jadi gapapa lah kita berpuas diri dengan warna biru. Itung-itung sok matching sama helm Hilman yang juga berwarna biru. 
Tapi kalo gw boleh mengkritik nih ye, itu helm sebenernya enggak banget. Setrendi-trendinya helm, teteup aja bikin rambut lepek atau membuat percakapan menjadi kurang asik karena diwarnai kebudekan demi kebudekan. Satu catatan ketrendian helm gw adalah karena gw nampak seperti robocop! Kekekekek, sumpeeeeh bow, gw berasa robocop abis gitu dengan helm ini. Di bagian belakang helm itu tuh ada entah apa itu pentul-pentul warna hejo muda gitu. Gak ada fungsinya, cuma aksen. Tapi itu tuh sungguh aksen yang oh enggak banget gitu. 
Satu hal yang kemudian gw perhatikan kalo gw naik motor adalah gw selalu melihat dari sisi kiri. Coba deh elu duduk di boncengan motor, trus elu ngeliatnya ke sisi kanan atau kiri? Kalo gw ternyata lebih sering ngeliat ke arah kiri, entah kenapa. Kalo ke arah kanan, berasanya gantung aja gitu. Tadinya gw pikir semua pembonceng itu pasti begitu, tapi ternyata enggak juga tuh. Ada ibu-ibu yang waktu itu gw perhatiin konsisten aja gitu ngeliat dari sisi kanan. Gw menjajal beberapa menit aja ngeliat dari sisi kanan, berasanya trus gantung aja gitu. 
Tapi beneran deh gw demen naik motor. Banyak anginnnya, cepet nyampe, bisa nyelip-nyelip, trus bisa dikit-dikit melanggar peraturan, kekekkee. Ketika gw lagi naik mobil, bawaannya emang nyolot sama motor karena mereka suka simsalabim nongol dari antah berantah. Tapi ketika gw naik motor, bawaannya ya yeeiihaaaa aja gitu, kekekek..
Berbicara soal motor, berarti berbicara juga soal ojek. Ojek-ojek di ujung jalan Balai Rakyat, deket rumah gw, udah mayan akrab sama gw. Dulu gw punya langganan ojek, namanya Mas Mufti. Tapi terakhir dia suka mengecewakan gitu karena suka gak bisa ditelfon di HP atau gak nongol aja. Trus ada bapak ojek yang rada ndut tapi baik hati dan gw gatau namanya itu. Kayaknya gw udah pernah nanya nama dia, tapi trus lupa. Ya gw banget gitu lho, langsung lupa nama orang abis kenalan. Jadi kan gengsi dan tengsin kalo nanya lagi, jadi main senyam senyum aje.
Gw suka gak enakan kalo lewat tukang-tukang ojek itu trus gak naik ojek. Padahal kan ada kalanya gw pengen berhemat dengan naik angkot ke kantor gw, ketimbang naik ojek yang 10 ribu untuk ke kantor itu. Mayan dong bedanya. Jadilah gw suka bela-belain jalan lebih jauh buat menghindar dari tukang-tukang ojek itu, biar gw gak perlu menolak jasa mereka.
Ada satu kali di mana gw berasa gantung gitu. Gw malessssss banget naik ojek karena pengen naik angkot. Tapi trus gw juga males jalan agak jauh demi menghindar ojek. Jadi udah deh gw hajar bleh aja lewat tukang-tukang ojek itu. Pas di depan mereka, gw rikues dong, "Bang, ke kantor bang." Ealah, itu tukang-tukang ojek pada berebutan menolak gw gitu. Pada ogah-ogahan gitu menolak rikues gw. Monyooonggg, tau gitu kan gw naik angkot aja dan gak mempedulikan perasaan mereka.
Ah tapi mana mungkin. Kan gw anaknya sensitif.
Halah.
Posted by pippi at 17:59 1 comments Links to this post
Saturday, September 23, 2006
Ini Pigimana Yak?
Ajaib sekali blog saya ini. Masih ada yang aneh dengan kode-kode html yang belum bisa gw pecahkan gara-gara dial up lelet dan mahal dan laknat ini. Huh.
Cobalah elu klik tulisan yang terdahulu. Yang manapun itu. Pasti gak nongol tulisannya kan? Yang nongol justru tulisan begini: "http://negeritakatuka.blogspot.com/$BlogItemPermalinkURL$"
Huh, entah ini sebenernya apaan. Gw udah coba mencocokkan kode html di template blog ini dengan blog yang lain, kayaknya kok baek-baek aja. Jadi apa yang salah?
Bantuin dwongs! Huhuhu..
Posted by pippi at 17:51 5 comments Links to this post
Thursday, September 21, 2006
Beda Byanget
Kamis kemarin gw ke kampus lagi setelah setahun gw anggurin begitu aja. Biasanya tiap tahun, ada aja sekali dua kali gitu gw ke kampus. Sekadar mampir aja, nengok gimana kondisi kampus dari hari ke hari. Balsem yang hilang berganti Takor, itu gw tau. Lalu ada Miriam Budiarjo resource center, gw juga tau. Nah tapi kunjungan tadi ke kampus itu bikin gw terbengong-bengong. 
Mungkin ini perkara gw-nya aja yang katro, sok shock gitu sama kondisi kampus sekarang. Dari depan aja deh, udah ada lapangan parkir baru lagi, yang penuh mobil. Widih, anak jaman sekarang, pada kuliah bawa mobil semua kali yak. Eh tapi kan bisa aja itu punya dosen ya. Hush, gak boleh berprasangka buruk. 
Trus pas masuk, gw juga mendapati banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas atau apa pun itu dengan laptop. Ya ada di mana-mana aja gitu, di taman dan bangku-bangku yang ada di seputaran kampus. Wiiih, gw langsung berasa gegar budaya gini. Perasaan dulu (dan sekarang juga ngkali) laptop itu barang mewah aja gitu, eh sekarang udah rame di kampus-kampus. Mungkin emang kebutuhan anak jaman sekarang beda kali yeee, mesti bawa laptop ke mana-mana, gak bisa lagi mengandalkan warnet yang ada. 
Gw menghabiskan bermenit-menit untuk sekadar putar-putar kampus. Segala gedungnya gw samperin, meskipun gak sampe gw masukin. Masih ada delapan gedung di kampus, sampai Gedung H. Yang ilang adalah gazebo, berganti rerumputan doang. Huhuhu, sedih banget. Gazebo itu kan strategis bener, ada di tengah-tengah, banyak jajanan pula. Mang Pendi sekarang ke mana ya? Kopma yang tadinya ada di situ juga ke mana ya? 
Nah, deket mantan gazebo itu ada tambahan selasar baru. Nah selasar baru inilah yang bikin tercengang-cengang. Ada restoran Korea yang sungguh-sungguh bernama "Restoran Korea", ada "bloc" toko buku ala QB yang katanya milik Andy Widjajanto, juga ada IT Center tempat jualan printer sampai ipod. Widih emang deh anak jaman sekarang. Bikin geleng kepala ajah.
Pas mampir ke Balsem, ya masih seperti sedia kala sih. Eh, maksudnya seperti sedia kala tuh ya seperti Takor. Modern, dengan kayu-kayu gitu, ya gitu deh. Kesan homey-nya udah ilang. Apalagi jelas-jelas ada larangan buat main kartu. Ah dasar kurang kerjaan. Masa kegiatan mahasiswa di kantin aja diatur. Udah mending sih sekarang udah gak ada baliho kuning gede-gede yang terpampang dengan sejumlah aturan, tepatnya larangan, di lingkungan kantin.
Kejutan yang menyenangkan sepanjang kunjungan gw ke kampus tadi pagi adalah ketemu Tingfu dan Jege. Ketemu dua-duanya ya beneran gak sengaja. Gw lagi jalan, sambil bengong-bengong mengagumi kampus gw yang sekarang ini, eh tiba-tiba denger nama gw dipanggil. Sayang gak sempet ngobrol lama sama Jege karena dia mesti ngajar. Trus ketemu Tingfu lebih gak sengaja lagi. Gw lagi lewat depan gedung A sambil nelfon, eh tiba-tiba ada muka Tingfu nongol di balik jendela. Wah, karyawan IT satu itu ternyata kerjanya di Gedung A toh.
Seneng juga mendapati temen-temen gw pada ngajar di kampus. Pas mampir lantai 2 Gedung B, lalu liat loker-loker dosen, gw juga berasa seneng karena liat nama-nama yagn familiar. Ada nama Michael Pol97, ada nama Sammy Gultom 93, ada nama Cecep 96, wah macem-macem deh. Gw gak sempet aja tadi nelfon Sandra, yang mestinya siy juga ngajar di HI.
Setaun atau setaun setengah lagi lah ya. Doain aja. Iiihh mantep!
Posted by pippi at 20:52 1 comments Links to this post
Wednesday, September 20, 2006
Baru Berasa
Setelah gw kembali dikutuk dengan sambungan internet mahal dan lelet ala dial up bernama telkomnet instan-yang-boong-banget-gak-instan itu, gw baru merasakan betapa durjananya hubungan jarak jauh. Lah kok telat amat ngerasanya? Kekekeke..
Coba itu gw jadi Hilman setaun lalu. Widih, gw udah semaput pengsan-pengsan kali nungguin sambungan internet. Belum lagi suka mati-mati. Gw nyambung ke YM aja susye-nya ampun-ampunan. Entah lah mengapa itu bisa terjadi. Tapi ya begitulah. Gw jadi teringat gimana Hilman ribuan kali sign in-sign out di YM karena sambungan internet yang dodolibret. Atau skype yang begaung, delay 17 detik sehingga bercanda tak lagi lucu, atau gak ada ada suaranya sama sekali saat kita menjajal peruntungan telfon gratis pc-to-pc lewat skype. Dan mengingat Hilman yang maju terus pantang mundur meski bete udah seubun-ubun.. wiiiihh, akyu cinta padamyu deh ai!
Lalu kalo dari diri gw sendiri, sekarang gw merasakan betapa nikmat, mudah, cepat dan membahagiakannya update blog. Gw gak usah mikir ngetik postingan berapa lama, toh internet udah gak mesti bayar (mahal) lagi. Lah ini, sebisa mungkin gw ngetik di word dulu, biar tinggal copy paste di blogspot *padahal sekarang gak gitu juga, huhu* Sementara kalo ngetik di word dulu baru dipindahin kan mengurangi esensi pengeblogan *alah tokek* Tapi serius lho. Kalo ngetik langsung gini kan sekaligus bisa mikirin foto apa taro di mana.
Yaaaahh singkat kata singkat cerita, gw baru berasa lah betapa durjananya internet dial up setelah gw setaun dibahagiakan dengan broadband itu. Limewire lancar, donlot apa pun terasa sekejap, ngupload foto buat flickrs, multiply, blog atau apa pun tinggal hajar bleh.. Nah sekarang? Huhuhuhu..
Posted by pippi at 00:01 0 comments Links to this post
Tuesday, September 19, 2006
Ke TK Kuncup Kencana
Hari ini gw nganter Salsa ke TK. Udah janji dari kemarin dan tentu saja gw sudah mengantisipasi daya ingat anak kecil yang maha tajam itu. Gw bangun jam setengah tujuh aja langsung digusrah-gusrah untuk segera siap, mandi dan makan. Huhuhu, padahal kan gw pengen nonton infotainment pagi, kiekeiekiek…
Jam tujuh lewat, gw, Mbak Nah dan Salsa berangkat ke TK. Nama TK-nya itu TK Kuncup Kencana di kompleks Ditjen Anggaran. Jalan kaki cuma 10 menit, tapi berhubung tadi waktunya rada telat, jadinya Salsa mesti digendong biar bisa jalan cepet. Sampai di TK-nya, ternyata belum bel untuk baris berbaris. Huhuhu lucunya liat anak-anak kecil bertebaran gitu, kekekek..
Salsa berdiri paling depan di barisan. Gw gak jelas juga sih sebenernya itu guru TK nyanyi apaan. Pilihannya antara daya ingat gw akan masa TK yang buram atau emang waktu jaman gw TK gak diajarin lagu itu. Tapi mengingat TK Tridaya, TK gw dulu itu halamannya kecil, gw agak ragu jaman dulu ada sesi baris-barisan gini. 
Jam 9 lewat, ada dokter gigi dateng. Dia akan meriksain gigi anak-anak TK A dan TK B yang ada di situ. Satu per satu anak-anak dipanggil ke depan kelas, udah ada bu dokter gigi yang siap menunggu. Dia cuma ngebuka mulut anak-anak itu, lalu pake alat yang ujungnya ada kaca itu lho. Entah lah alat itu namanya apa. Dia liatin satu-satu, abis itu dikasih satu lembar kayak brosur gitu isinya tentang cara merawat gigi anak. Setelah sesi pemeriksaan kelar, anak-anaknya kembali ke kelas sementara para pengantarnya, entah ibu atau pembantunya, dikumpulin di ruangan untuk mendengarkan hasil pemeriksaan gigi itu. 
Di kelas TK B, gak ada satu pun yang giginya bagus, sementara Salsa adalah satu-satunya anak di TK A yang giginya paling bagus. Iiiih mantep! Gak percuma gak boleh makan permen dengan ketat di rumah, kekekekek.. Sesi ini tentu saja bercampur aduk antara penjelasan dokter dan promosi odol. Soalnya kemudian dokternya jualan odol enzim buat anak-anak, yang tidak mengandung deterjen. Gw baru tau juga sih kalo odol itu mengandung deterjen, kirain mengandung batu bata. Eh enggak ya? Kikikikik.. 
Sekolah TK itu ternyata kelar jam 10-an. Lama juga ya buat itungan anak kecil. Eh lama gak sih ya dari jam 7.30 sampe jam 10? Mayan dong ya. Untung aja di tengah-tengah itu ada sesi nyemil, jadi kan asik. Anak-anak itu ada yang bawa bekal dari rumah, tapi ada juga yang jajan di kantin sekolah. Ih kok gak asik banget yak mesti jajan gitu. Mbok yao bikin bekal aja di rumah. 
Eh tapi kan belum tentu sempet yak. Coba bayangin kalo gw kelak punya anak TK dan gw tetep kerja. Widih, udah gak bakalan sempet nganterin kalo gw masup pagi, gak bakalan sempet juga bikin bekal makan. Trus gak bakalan bisa liat sesi baris-berbaris, foto-foto TK, trus sesi pemeriksaan gigi. Ooo mungkin ada baiknya, siapa pun yang mengantarkan kalo-gw-punya anak itu dibekali dengan kamera digital yak, biar gw gak ketinggalan apa pun. Kekekekek. Canggih amat yak. 
Sebagai anak manis yang giginya bagus, maka hadiah buat Salsa adalah es buah! Kekekek.. abis gigi bagus kok malah diseksa pake manis-manisan, hihihihi.. Tapi es buahnya enak juga lho. Es buah khas Cirebon. Emang ada khas-khas-an ya minuman es buah doang? Bukannya semua tinggal campur-campur belaka? Ah well.
Posted by pippi at 12:01 0 comments Links to this post
Saturday, September 16, 2006
Kawinan Galih
Sesampainya gw di Jakarta, gak ada kesempatan buat jetlag sama sekali deh. Gw nyampe Jumat siang, abis itu istirahat semalem, Sabtunya udah bekeliaran ke mana-mana. 
Hari Sabtu adalah kawinannya Galih dan Didi. Ups, salah. Dhee-dhee, begitu Galih mengetik nama pacarnya, eh istrinya deng sekarang. Kawinannya di Taman Wiladatika, Cibubur. Waktu kepulangan gw emang ngepas-ngepasin sama kawinannya Galih, biar gw bisa dateng gitu. Jadilah hari Sabtu jam 5 pagi, gw dijemput minke. Ahaaay, kembali lah gw mengarungi ibukota dengan jengle biru-nya minke. Manstaf! Ternyata jarak Pondok Bambu ke Cibubur itu jauh yak. Gile, gw pikir cukup 30 menit doang. Untuuung naik motor, jadi bisa nyelip-nyelip dan masih pagi. Dan ternyata masih pagi pun, sekitar jam 6-an gitu, Pasar Cibubur udah rame aje. Gile. Lahiya lah yaw, namanya juga pasar naooon..
Gw nyaris membatalkan pergi ke kawinan Galih begitu liat ada spanduk kuning besar di PD Pasar Jaya Cibubur. "Lomba SMS Tercepat, dimeriahkan artis ibukota" Wah gw bisa menang tuh. Sumpah. Tapi karena tujuan mulia gw pulang cepet adalah ke kawinan Galih, ya sutra, lupakan saja itu lomba SMS tercepat.
Sampe di Taman Wiladatika, gw dan minke menuju Wisma Flamboyan, tempat Galih dan keluarganya ngumpul. Aduh cape ya nulis minke, Hilman aja deh, kekekek. Abis itu Hilman langsung didandanin, karena dia jadi petugas yang bawa kembar mayang. Kalo gw mah dandan mandiri aja. Widih, untung ini kebaya putih masih cukup, kekekke.. Gw pake baju kawinan waktu Eci nikah dulu. Andelan tuh. Gw udah gak punya kostum lagi nih kalo ada kawinan berikutnya. Asseeeikkk, bikin baju ah! *alesan*
Abis itu ketemu Victor dan Sofyan, lalu cengagas-cengeges dikit sambil nelangsa karena roti baru nyampe pas kita mau pindah ke lokasi kawinan, akhirnya kita sampai di Wisma Parangtritis. Dari tadi kok dari wisma ke wisma gini, sebenernya ada kawinan gak sih? Kikikikik. Wisma Parangtritis ini paling deket sama lokasi kawinannya Galih. Adoh apa ya itu nama gedungnya. Pokoknya gak bakalan keleru lah masuk ke kawinan Galih. Lah wong narsis abis gitu, ada poster gede dua biji di bagian depan lengkap dengan foto Galih-Didi lagi ketawa ketiwi. Dasar narsis. Saya bangga! Kekekek..
Kawinannya total Jawa, mantep dah. Pas akad nikah, Didi-nya gak nongol. Yang kedengeran cuma suaranya doang, pas minta maaf-minta maaf sama orang tua itu lho. Dengan keji kejamnya, gw, Victor dan Sofyan malah cengangas-cengeges dan ngedubbing suaranya Didi. Abis suaranya kan kayak datang dari langit gitu, malah jadi nuansa horor, kekekeke...
Tempat kawinannya enak. Banyak anginnya, di dalem juga adem. Lahiya laaah, namanya juga pake AC. Untungnya badan gw gak norak setelah pulang dari London. Gw gak berasa kegerahan amat atau gak tahanan sama udara Jakarta yang berdebu tapi lembab itu. Santai aja di boncengan. Mungkin karena gw langsung ngerasain naik motor kali yak, dengan debu-debu yang menerpa muka gw tanpa permisi. 
Galih kocak abis gitu pas akad. Gak ada grogi-grogi-nya. Gak seru. Kikikik. Trus abis kalimat "Saya terima nikahnya, blu blu blu" gitu, dia langsung nyengir. Halah, dasar katro lu Gal, kekekekek.. 
Abis akad nikah, mulailah masuk sesi berikutnya. Hilman mulai bertugas, bareng sepupunya Galih, untuk bawa kembar mayang. Kekekeke, ketipu doi. Hilman kira kembar mayang itu enteng, eh ternyata pake kayak vas gede dari perunggu gitu yang beratnya ampun-ampunan. Nah loh, rasain kan tuh. Emak gw pan udah bilang kalo kembar mayang itu berat, kikikikik. Gw baru tau ada barang bernama kembar mayang ya dari Galih. Katanya buat kayak tolak bala gitu, makanya si kembar mayang itu masuk duluan ke ruangan resepsi. Kalo gak salah inget sih gitu yak.
Makanan di kawinan Galih juga enak. Tentu saja gw langsung ngantri di kambing guling. Adoh, memalukan sekali saya ini. Untung gw tau diri gak ngambil porsi segunung, hihihihi. Memalukan gak sih, gw ambil kambing guling, sementara Hilman cuma ambil wafel es krim. Halah. Ketauan amat beda kapasitas perut, kiekeiekieke.. 
Abis makan-makan, salaman sama Galih dan Didi, tidur-tiduran bentar di Wisma Parangtritis yang adem itu, abis itu baru pulang. Eits, tunggu dulu. Kado buat pasutri baru ini kan masih ada di tas gw! Dengan serta merta, itu kado akhirnya dijadiin kado bersama aja, barengan sama Victor dan Sofyan. Biar ramean. Itu kado akhirnya dititip lewat Gilang. Kadonya dikasih dalam kondisi gak dibungkus, tapi dikasih dalam keadaan terbalik ke Gilang. Dipesenin baek-baek untuk gak dibalik, gak dibuka, ditaro di kantong, lalu langsung dikasih ke Galih. Halah, pan Gilang juga bisa baca itu tulisan di kotak kado buat Galih, keikeiekeie.
Jadi kadonya apa?
Begini tulisan di kotak itu: foreplay dice. Kiekiekeiekiek..
Selamat menempuh hidup baru ya Galih dan Dhee-dhee!
Posted by pippi at 18:05 1 comments Links to this post
Sunday, September 10, 2006
tukang gosip
salah satu acara favorit di rumah gw dulu kalo hari minggu adalah go show. norak yak. tapi yaaa begitulah. keiekieke. hari minggu pagi, bangun rada siangan dikit, begitu bangun berebut baca koran. bagi yang gak beruntung dapet halaman yang asik ya mesti sabar nunggu giliran atau cule dikit dan merebut halaman itu. aduh, buruk sekali kebiasaan itu, keikeiek..
abis itu jam 9-an, pindah channel ke tpi, nonton go show. masih ada gak ya itu acara sekarang? dibandingin acara gosip lainnya, go show ya gak ngetop-ngetop amat. dia berbeda karena hostnya edan, yaitu tamara geraldine dan edwin. selebihnya mah biasa aja. grafisnya malah cenderung basi. dan entah mengapa, bokap nyokap gw demennya ya nonton go show, bukan acara gosip lainnya. mungkin semata-mata karena go show di hari minggu kali ya.
lalu suatu ketika kami berempat lagi kumplit di rumah. bokap, nyokap, kakak gw dan gw. nonton go show. lalu ada berita tentang artis X (perempuan) yang kawin sama pengusaha kayu di kalimantan. tanpa diperintah satu per satu dari kami komentar.
kakak gw: iih itu lakinya kan.. gituu deh.. jelek.
gw: mana pengusaha kayu di kalimantan pula. pastiii deh..
bokap: iya. pasti pembalak liar. kalo gak gitu apa lagi?
nyokap: hush. gak boleh gitu. ya dia kan jelek, jadi mesti kaya biar ditaksir sama si artis.
hening.
padahal kan kita gak ada yang kenal itu artis yak. keiekiekeie. hadoooh, parah!
Posted by pippi at 07:25 0 comments Links to this post
Saturday, September 09, 2006
kacamata
kalo gak salah inget cerita nyokap, gw pake kacamata dari umur 2 taun. wuih, cilik-cilik dah pake kacamata aja. kata nyokap, dulu gw kalo jalan suka jatoh. jadilah dicari tau apa penyebabnya. kayaknya ya karena mata gw siwer itu. keikeiekei..
dari kecil juga gw udah operasi mata. soalnya gw juling. weeee gak ada yang tau kan! itu memang rahasia terbesar dalam hidupku. kekeke, apaa coba. gw dan kakak gw itu juling. gw kiri, kakak gw kanan. makanya kata om gw, kalo gw dan kakak gw duduk sebelahan, jadilah pandangan kita luas. hush. sembarangan kamu.
frame kacamata jaman gw cilik tentu saja katro. model frame plastik gitu. teman setia gw dulu adalah rantai kacamata. idih enggak banget deh pokoknya. nista abis. udah frame plastik, pake rante, pasti mangap pula gitu gw kalo difoto. huhuhu. enggaaakk banget.
kalo ngeliat foto jaman gw kecil, dari sd deh kira-kira, tampilan gw emang nerdy abis. ih katro. gw aja suka males. begengnya gak keruan, item, pake kacamata dengan frame besar pula. huhuhuhu. tapi ya sudahlah, diterima aja. itu kan bagian dari hidup gw. cie. apa sih.
gw mulai rada sadar penampilan jaman kuliah. aduuuu ketinggalan jaman deh mbak. lama amat nyadarnya. sejak itu gw mulai waspada milih frame kacamata. pilihan gw gak aneh-aneh sih. dulu pernah beli frame plastik warna item, yang gak ada kaki idungnya itu lho *kaki kok idung* tapi karena muka gw berminyak, jadi itu kacamata melorot melulu di idung gw. gak jodoh.
frame standar gw juga pilihan aman aja sih sebenernya. oval, warna item. udah. gw gak aneh-aneh. males juga aneh-aneh di bagian muka, bagian yang paling keliatan orang lain. mana kulit gw kan gelap *item, sok bilang 'gelap' segala* jadinya kan mesti cermat memilih gaya penampilan.
sekitar setaun lalu, frame gw warna merah bersemu coklat, bentuk kotak. trus beberapa saat sebelum berangkat ke london, ganti kacamata. frame kotak, item. tumben gak oval. ternyata oke juga. walhasil kacamata yang diniatkan jadi kacamata cadangan, jadi kacamata utama deeii..
sekarang kacamata gw ada.. mmmm.. yang gw pake sekarang, oval item cadangan, dan kotak merah-semu-coklat cadangan juga. wiii banyak ya cadangannya. namanya juga gw teledor, mendingan banyak-banyak punya cadangan.
kacamata gw yang oval item itu tuh ada clip on-nya. belinya di melawai atau blok m gitu. jaman sekarang mah clip on udah ketinggalan jaman banget. kalo mau trendi mestinya gw pake contact lense biar bisa pake oversized sunglasses. kadang-kadang pengen juga sih pake gitu, kan gaya pisan, keiekiekei... tapi mengingat gw ngeri pake contact lense, jadi gak bisa pake kacamata item standar deh. pilih mana hayo, mau gaya atau buta? minus empat gitu lhooo.. pake soksokan segala..
ntar pas nyampe jakarta lagi, gw mau bikin kacamata ah. kayaknya minus gw udah mulai ngaco. kayaknya yeee. trus gw mau ke optik andelan di mal ambasador itu: optik trinity. gile mantep banget kayak matrix. gw beli kacamata yang sekarang ini cukup 200 ribu saja, lengkap dengan kaca minus 4 yang ditipisin! wiiih murah byanget tuh!
asik.. pilih frame apa ya kali ini?
Posted by pippi at 05:18 0 comments Links to this post
Saturday, September 02, 2006
nulis kayak apa?

gw suka jatuh kagum kalo mampir blog orang. terutama blog sendu-sendu. yang nulisnya mellow-mellow. nah kalo yang nulisnya pake bahasa inggris mah udah gak ada ampun. gw mah putus. paling males kalo disuruh nulis blog pake bahasa inggris. wong katarsis kok disuruh ribet. apalagi nulis bahasa inggris yang mellow. widih, gak gw banget tuh.
tapi kadang-kadang gw suka pengen bisa nulis kayak gitu. pengen tau aja, kayak apa sih hasil karya gw kalo mellow. udah pernah nyoba sih bikin tulisan mellow, tapi yang ada mandek. satu kalimat, berhenti. satu kalimat, berhenti lagi. kayaknya emang gak bakat aja gitu. coba itu pas nulis blog pippilotta. wah, lima menit aja tulisannya bisa panjang banget.
gw seneng kalo ada orang yang bilang mereka suka blog gw. berasanya... punya fans! kkekekeke. dan itu juga yang memacu gw untuk ngupdate sering-sering. cie, suit suit. seperti tagline di salah satu blog mana gitu "kunjunganmu adalah semangatku" kekeke.. bener banget tuh.
yang kadang-kadang jadi concern gw adalah komen yang masuk. ajigile, narsis amat. punya blog aja udah narsis, ini lagi pingin dikasi komen. kekekek. ya gapapa dong. komen kan bentuk apresiasi pembaca blog. ya gak sih? kalo cuma mampir, tapi gak ngasi jejak kan kurang afdol. kekeke, padahal gw sering mampir blog yang gw suka tapi gak pernah ngasi komen :P
tapi emang berguna siy ngasi komen dan ninggalin jejak di mana-mana. apalagi sebagai sesama blogger. karena meninggalkan jejak berarti membuka kemungkinan orang baru untuk membuka blog gw. haha, dan bukankah itu yang gw inginkan.. hieiiehiehie.. dasar narsis.. susaaah.. susahhhh..
temen gw beberapa kali bilang kalo gw sebaiknya bikin buku dari blog pippilotta gw. masa iya dengan gaya bahasa begini? masa lengkap dengan 'hajar bleh', 'ajigile', 'mwonyong' dan sebagainya itu? gak mungkin gak sih? eh atau mungkin? gw gak pernah terlalu merhatiin gaya bahasa 'buku anak muda' gitu siiy.. *menghindari penyebutan chicklit tanpa alasan*
jadi yaaa ini gw sembari mencari tau sebenernya gaya nulis gw kayak apa. gw bisa kok nulis serius, seperti di blog marimenulis. atau ya kerjaan gw di kantor, tentu saja itu tulisannya serius kaaan.. masa berita pake 'hajar bleh'.. bisa gak digaji gw..
kalo emang gaya nulis gw ala srimulat begini, gw sih nyaman dong tentu saja. karena paham gw kan mesti ngetik yang sesuai dengan kecepatan mikir otak gw. tapi apa iya tulisan macem gini laku dijual? kan gw pengen dagang tulisan juga gitu lhow, kikikik..
Posted by pippi at 13:35 0 comments Links to this post
Friday, September 01, 2006
yuhu...

ini adalah blog ke-6 gw mestinya. huehuehue. banyak bener yak punya blog.
mungkin gw mengibaratkan diri gw kayak folder komputer. satu folder, satu blog, satu chapter hidup gw. makanya pas gw pacaran sama si anu, gw punya blog anu. pacaran sama si inu, gw punya blog inu. trus sekolah di inggris setaun, punya blog lain lagi. mantep dong. hiehiehie.
nah sekarang ini buat chapter hidup gw yang mana ya? buat chapter miscelaneous aja deh. folder itu selalu ada tuh di laptop gw. haha.. sebagai orang yang mengaku organised, memiliki folder miscelaneous bukankah menunjukkan bahwa gw tidak cukup organised? huehuehuehue...
sejatinya gw adalah orang yang mudah berdusta. gampang boong. kebanyakan white lies siy. bukan buat nutupin sesuatu yang buruk, tapi buat nyenengin orang aja. padahal kata temen gw, kalau tak bisa jujur pada diri sendiri, jangan harap orang percaya padamu.
hehe, gw gak ngarep orang percaya sama gw siy. tapi secara nama gw berarti 'image' gitu lhow, jadi ya gw gape banget memoles 'image' gw. hahaha. therefore, am i a liar? ah mbuh aaahh.. hiehiehihei..
tapi sejatinya gw orang baik lho. sungguh. gak pernah ada niat jahat terlintas. cuma kadar rasa gak enakan sama orang yang kadang-kadang terlalu besar. itu aja. itu yang suka membuat gw berasa punya identitas ganda. kalo mau yang ganda-ganda mah mendingan jadi tentara aja. dwi fungsi abri. hayyaahh..
Posted by pippi at 19:09 0 comments Links to this post