Hari ini kami bertiga ke Kota Tua. Dari Stasiun Manggarai pakai kereta komuter, turun di Stasiun Kota, lalu jalan kaki. Nah jalan kakinya ini yang luar biasa menantang. Kami harus melewati trotoar yang dipenuhi motor-motor setan belang yang naik ke trotoar.
Sebelumnya, gw udah liat video tentang ibu yang nekad cuek aja ngadepin motor yang naik ke trotoar. Juga video bapak-bapak yang tidur telentang demi menghalangi sepeda motor naik ke trotoar. Semua demi mempertahankan hak pejalan kaki.
Dan kami bertekad melakukan hal serupa.
Jadilah begitu kami naik ke trotoar, gw dan Hil langsung gandeng Senja erat-erat. Senja harus belajar tentang kejamnya ibukota dari kami berdua sekarang. Kami berjalan dari arah yang berlawanan dengan motor-motor setan belang itu. Pasang tampang kenceng, mari maju jalan. Kalo ada motor yang berani-berani lewat atau memaksa gw minggir, maka akan serta merta gw bentak. Hil gak kalah galak. Dan sepanjang trotoar itu kami mengucap mantra: “Ini trotoar, tempat pejalan kaki, bukan tempat motor!” kepada setiap pengendara motor yang kami lewati.
Sampai ketika ada motor di hadapan gw yang nekad aja gitu. Gw berhenti depan dia. “Kalau saya nggak mau minggir, Anda mau apa?” kata gw kenceng. Dia entah ngomong apa di balik penutup mulutnya itu. Tampangnya sepet, tapi ya gw bodo amat. Dia berani maju, gw hajar. Hil juga berhenti. Jadi kami memblokir motor-motor di depan kami. Hah, rasakan kalian pengandara motor keparat.
Setelah kami sampai di Kota Tua, gw tanya ke Senja. “Tadi kamu takut ngeliat Ibun marah sama pengendara motor?” Dia bilang, nggak. Lalu gw tegaskan lagi ke dia bahwa motor tidak boleh naik ke trotoar, karena itu tempat pejalan kaki. Dan bahwa kita, pejalan kaki, harus membela hak kita sendiri atas trotoar.
Setelah puas main di Kota Tua, kami mau balik naik kereta lagi. Artinya, harus melalui trotoar neraka yang dipenuhi motor-motor setan belang. Dari jauh kami udah liat kalau motor-motor itu tetap melaju di atas trotoar.
Tadinya kami berjalan dengan komposisi seperti ini: Hil gandeng Senja, gw di belakang mereka berdua. Lantas Hil bilang,”Kamu di sebelah sana aja.” Jadilah kami dengan komposisi seperti semula: bergandengan bertiga. Siap menghadang motor-motor laknat.
Lalu gw sempatkan cerita sebentar sama Senja, soal video yang gw liat soal bapak-bapak yang tidur telentang di trotoar demi menghadang motor naik ke trotoar. Gw bilang,”Aku kagum sama orang itu, dia berani sekali menghadang motor-motor supaya tidak naik ke trotoar.” Dengan pandangan kagum, Senja tanya,”Dia anak-anak?” Oh bukan Senja. “Dia anak sekolah?” tanya Senja lagi. Oh my dear boy, you’re such a smart kiddo. Bukan Senja, dia bapak-bapak. Dan kita harus berani seperti dia.
Kali ini kami berjalan searah dengan motor-motor itu. Kami jalan santai aja. Nggak terburu-buru, berusaha tidak panik dengan motor-motor di belakang kami. Lalu ada yang berani-beraninya nglakson. Gw langsung balik badan dan berkata keras,”Ini trotoar! Untuk pejalan kaki! Bukan buat motor!” Dia jiper dan minggir dari arah gw. Bagus.
Sepanjang jalan kami kembali mengulang mantra yang sama: “Ini trotoar, tempat pejalan kaki, bukan tempat motor!”
Selanjutnya, motor-motor di belakang kami mulai menghindari kami. Lantas tiba-tiba trotoar agak menyempit. Dan ada satu motor laknat lagi yang mengklakson. Gw balik badan lagi dan segera menyemprot orang itu.
Orang itu sebetulnya diem-diem aja. Bapak yang di sebelahnya mencoba berdamai,”Iya, tapi kita nggak usah marah-marah di sini, ini tempat publik.” Gw semprot lagi itu bapak,”Ini emang tempat publik, tapi trotoar tetep tempat pejalan kaki.”
Ada satu pengendara motor di lapis belakang sebetulnya, yang tampangnya keliatan sewot dengan apa yang kami lakukan. Laki-laki. Muda. Setelah dia berhasil menyalip kami, dia menengok ke arah belakang, menatap gw dan bilang,”Kayak situ cantik aja.”
Gw teriak balik ke dia,”Ini bukan perkara tampang! Tapi ini perkara otak!”
Kasihan orang itu. Pasti dia bolos pas Tuhan bagi-bagi otak.
Maafkan kami Senja, harus melihat kami marah-marah seperti tadi.
Kalau boleh memilih, tentu lebih baik jalan tenang dan santai di trotoar menuju Stasiun Kota. Tapi ada setang-setang belang motor di trotoar yang harus diusir demi ‘membeli’ kenyamanan pejalan kaki.

